Mayoritas bursa saham di kawasan Asia mengalami koreksi tajam pada perdagangan Kamis (16/7). Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran investor mengenai keberlanjutan tren ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dinilai mulai jenuh, sehingga memicu aksi jual besar-besaran di sektor teknologi regional.

Indeks Kospi di Seoul, Korea Selatan, menjadi yang paling terdampak dengan merosot lebih dari tujuh persen. Dua raksasa produsen semikonduktor, SK Hynix dan Samsung, mencatatkan kejatuhan saham hingga sekitar 10 persen. Tekanan ini muncul setelah kedua emiten tersebut sempat menyentuh rekor tertinggi tahun ini akibat euforia teknologi AI.

Para pelaku pasar kini mulai mempertanyakan rasionalitas valuasi korporasi teknologi yang melambung tinggi. Nilai investasi fantastis yang dikucurkan ke sektor AI dalam beberapa tahun terakhir dianggap belum sebanding dengan profitabilitas riil yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut.

Stephen Innes, analis dari SPI Asset Management, menjelaskan bahwa lonjakan Indeks Semikonduktor Philadelphia hingga 83 persen tahun ini mencerminkan valuasi pasar yang sudah terlampau mahal. Menurutnya, meskipun kinerja keuangan korporasi solid, koreksi harga saham sulit dihindari ketika pasar sudah terlalu jenuh dan ekspektasi investor dipatok terlalu tinggi.

Tekanan jual juga menjalar ke pusat teknologi regional lainnya seperti Tokyo dan Taipei, diikuti pelemahan di Sydney, Shanghai, dan Wellington. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong justru menguat lebih dari satu persen berkat rebound saham cip domestik. Sementara itu, dari sektor komoditas, ketegangan geopolitik yang berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran turut mengatrol harga minyak mentah global.