Sektor teknologi Asia diproyeksikan masih akan menjadi penggerak utama pasar regional pada kuartal ketiga tahun ini. Kendati demikian, para investor kini mulai mengadopsi sikap lebih selektif akibat kekhawatiran terhadap valuasi yang dianggap terlalu tinggi, kinerja laba emiten yang tidak merata, serta pertanyaan krusial mengenai apakah gelombang belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) benar-benar mampu memberikan imbal hasil yang sepadan bagi pemegang saham.
Laporan strategi terbaru dari Bernstein menyoroti bahwa sektor semikonduktor tetap memegang posisi dominan, ditopang oleh siklus laba yang solid. Para analis cenderung merekomendasikan perusahaan pemimpin infrastruktur AI, seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC), SK Hynix, Samsung Electronics, dan MediaTek. Namun, investor diperingatkan agar lebih memprioritaskan perusahaan dengan momentum laba yang berkelanjutan dibandingkan sekadar mengejar euforia perdagangan saham AI yang telah melambung mahal.
Dinamika pasar baru-baru ini menunjukkan adanya keraguan dari pelaku pasar. Indeks KOSPI Korea Selatan sempat mengalami koreksi tajam lebih dari 3%, sementara Nikkei 225 Jepang turut terkoreksi akibat aksi jual pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Kinerja ini kontras dengan indeks Taiwan yang justru mampu mencatatkan penguatan, mencerminkan perbedaan sentimen investor terhadap prospek masing-masing pusat manufaktur chip dunia.
Ketidakpastian ini diperburuk oleh laporan laba Samsung Electronics yang dinilai kurang meyakinkan pasar bahwa profitabilitas chip memori mampu menutupi beban modal yang masif. Di sisi lain, antusiasme tetap terlihat pada segmen chip high-bandwidth memory (HBM) yang krusial bagi prosesor AI Nvidia, di mana SK Hynix terus mempertahankan kepemimpinannya.
Memasuki sisa kuartal, Bernstein tetap mempertahankan peringkat positif bagi ekosistem AI di Taiwan dan Korea Selatan. Sementara itu, untuk pasar Jepang dan China, para analis menyarankan pendekatan yang lebih hati-hati dengan memfokuskan portofolio pada perusahaan yang memiliki visibilitas laba yang jelas serta valuasi yang berada pada level wajar di tengah pasar yang semakin kompetitif.