Industri jasa keuangan di Indonesia dinilai masih menyia-nyiakan potensi besar dari segmen penyandang disabilitas. CEO dan Founder Konekin, Marthella Rivera Roidatua Sirait, menegaskan bahwa penyandang disabilitas seharusnya tidak lagi dipandang sebagai penerima layanan sosial, melainkan sebagai pangsa pasar potensial yang mampu mendorong pertumbuhan bisnis perbankan secara berkelanjutan.
Dalam seminar MRinsights 2026 yang berlangsung di Jakarta, Senin (13/7), Marthella menekankan pentingnya pergeseran pola pikir pelaku industri. Menurutnya, inklusi disabilitas tidak boleh lagi dianggap sebagai beban kepatuhan atau sekadar program CSR, melainkan harus diposisikan sebagai strategi bisnis yang krusial.
Data global menunjukkan besarnya nilai ekonomi dari segmen ini, dengan estimasi daya belanja tahunan mencapai USD1,9 triliun. Di Indonesia, populasi penyandang disabilitas yang mencapai sekitar 22 juta jiwa merupakan ceruk pasar yang signifikan, terlebih jika keluarga dan pendamping mereka turut dihitung ke dalam ekosistem konsumen tersebut.
Meski potensi pasarnya luas, aksesibilitas layanan keuangan bagi kelompok ini masih sangat terbatas. Marthella menyoroti kendala nyata yang dihadapi, mulai dari penolakan pembukaan rekening, infrastruktur kantor fisik yang belum ramah kursi roda, hingga aplikasi perbankan digital yang tidak mendukung teknologi pembaca layar (screen reader).
Untuk mengatasi kesenjangan ini, diperlukan transformasi melalui empat pilar inklusivitas. Langkah konkretnya meliputi perbaikan sarana fisik kantor cabang, pengembangan aplikasi digital yang aksesibel, serta pelatihan intensif bagi staf perbankan agar memiliki sensitivitas dalam melayani nasabah yang beragam.
Sebagai langkah strategis jangka panjang, Marthella menyarankan perusahaan perbankan untuk membuka pintu rekrutmen bagi penyandang disabilitas. Keterlibatan mereka di dalam organisasi diyakini akan memicu inovasi layanan yang lebih tepat sasaran karena berasal dari pemahaman langsung atas kebutuhan pengguna.