Pengembangan industri obat derivat plasma darah di Indonesia diproyeksikan memiliki prospek cerah dalam satu dekade ke depan. Sektor biofarmasi yang padat modal dan teknologi ini diperkirakan mampu menarik investasi asing maupun domestik hingga ratusan juta dolar Amerika Serikat (AS).

Ketua Umum Asosiasi Biofarmasi dan Bahan Baku Obat (AB3O), FX Sudirman, mengungkapkan bahwa besaran investasi tersebut sangat bergantung pada kapasitas produksi, variasi produk, tingkat integrasi teknologi, serta kesiapan infrastruktur pendukung di dalam negeri. Fasilitas fraksionasi plasma sendiri dikenal sebagai salah satu industri yang membutuhkan teknologi tinggi.

Sudirman menjelaskan bahwa mendirikan pabrik hanyalah langkah awal. Untuk mendukung ekosistem ini, Indonesia harus memperkuat infrastruktur hulu hingga hilir, mulai dari unit pengolahan darah yang tersertifikasi, sistem pembekuan cepat, distribusi rantai dingin (cold chain), hingga laboratorium pelacak penyakit menular dan sistem digitalisasi pelacakan logistik.

Dengan populasi melebihi 280 juta jiwa, pasar domestik untuk produk derivat plasma seperti albumin, imunoglobulin, dan faktor pembekuan darah masih terbuka lebar. Saat ini, sebagian besar kebutuhan medis esensial untuk penanganan pendarahan, operasi, hingga penyakit autoimun tersebut masih dipenuhi melalui impor.

Kendati menawarkan potensi ekonomi yang menggiurkan, industri ini bukanlah ladang investasi jangka pendek yang spekulatif. Keberlangsungan bisnis di sektor ini menuntut kepastian pasokan bahan baku plasma berkualitas, jaminan pasar domestik, serta kepatuhan terhadap standar mutu yang sangat ketat.

Sudirman menekankan bahwa kunci utama untuk menarik minat investor adalah kepastian kebijakan jangka panjang dari pemerintah yang tidak mudah berubah. Jika ekosistem terintegrasi ini berhasil dibangun, Indonesia tidak hanya mampu menekan impor dan menghemat devisa, tetapi juga berpeluang menjadi pusat produksi dan distribusi produk derivat plasma di kawasan ASEAN serta negara-negara Islam (OKI).