Sebuah studi terbaru dari Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan (NTUH) mengungkapkan bahwa suntikan penurun berat badan berbasis agonis reseptor GLP-1 dapat menekan risiko terkena 13 jenis kanker terkait obesitas hingga 41 persen. Temuan ini menunjukkan efektivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan upaya penurunan berat badan yang hanya mengandalkan metode diet dan olahraga.
Penelitian kolaboratif ini dipimpin oleh Hsu Heng-cheng dan Chiang Ying-cheng dari Departemen Obstetri dan Ginekologi NTUH, bekerja sama dengan Chang Yun-hao dari Yang Ming Chiao Tung University, serta tim peneliti dari Houston Methodist di Amerika Serikat. Mereka menganalisis data rekam medis elektronik TriNetX AS dari periode 2014 hingga 2025, yang mencakup orang dewasa penderita obesitas tanpa riwayat diabetes maupun kanker.
Menggunakan metode pencocokan skor kecenderungan, para peneliti membandingkan lebih dari 160.000 pasien yang terbagi dalam dua kelompok terapi: pengguna obat GLP-1 dan pelaku intervensi gaya hidup mandiri. Setelah masa pemantauan rata-rata dua tahun, kelompok yang menggunakan obat GLP-1 menunjukkan penurunan risiko yang signifikan terhadap 13 jenis kanker yang dikategorikan oleh National Cancer Institute AS sebagai kanker yang dipicu oleh kelebihan berat badan.
Berdasarkan hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Oncology edisi Agustus ini, penurunan risiko paling tajam ditemukan pada kanker endometrium dan kanker kolorektal. Di sisi lain, tidak ada penurunan risiko yang signifikan pada kasus kanker payudara, sementara kanker paru-paru tidak dimasukkan dalam objek penelitian karena tidak tergolong sebagai kanker terkait obesitas.
Direktur Departemen Obstetri dan Ginekologi NTUH, Chen Chi-hau, menekankan potensi besar obat GLP-1 dalam mencegah kanker endometrium yang dipicu oleh obesitas. Kendati demikian, Hsu Heng-cheng mengingatkan bahwa obat ini tetap harus disertai perubahan gaya hidup sehat serta konsultasi medis ketat. Ia juga menggarisbawahi bahwa studi retrospektif ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat langsung, sehingga masih memerlukan uji klinis prospektif lebih lanjut.