Selama ini berkembang anggapan umum di masyarakat bahwa wanita memiliki kemampuan multitasking atau mengerjakan banyak hal sekaligus yang lebih baik daripada pria. Namun, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Research menunjukkan bahwa perbedaan kemampuan kognitif tersebut sebenarnya tidak sesignifikan yang diperkirakan.

Riset yang dipimpin oleh André Szameitat dari Brunel University of London dan Diana Szameitat dari City St George's, University of London, ini menguji puluhan partisipan dalam simulasi aktivitas sehari-hari yang penuh tekanan. Para peserta diminta menyelesaikan serangkaian tugas secara bersamaan, mulai dari mengikuti resep masakan, mencari nomor telepon, mencocokkan data, hingga mempertahankan percakapan aktif.

Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kinerja pria dan wanita hampir setara pada sebagian besar tugas fisik dan kognitif. Perbedaan yang mencolok hanya terlihat pada aspek komunikasi verbal. Partisipan pria tercatat dua kali lebih sering terlambat atau gagal merespons obrolan dibandingkan wanita, meskipun saat mereka menjawab, kualitas dan kecepatannya tetap sama baiknya.

Peneliti kemudian melakukan studi lanjutan dengan meminta penilai independen mengamati video para peserta saat beraktivitas. Menariknya, meskipun kinerja objektif mereka serupa, peserta pria dinilai lebih negatif secara sosial—dianggap kurang fokus dan kurang memegang kendali—hanya karena jeda komunikasi yang mereka tunjukkan terlihat lebih jelas dibanding hambatan tugas lainnya.

Para ilmuwan menduga kecenderungan wanita untuk lebih memprioritaskan interaksi sosial turut memengaruhi stereotip ini, meskipun faktor pastinya—apakah karena evolusi, tuntutan sosial, atau pola asuh—masih memerlukan kajian lebih mendalam. Temuan ini menegaskan bahwa stereotip gender mengenai multitasking sebagian besar lahir dari perbedaan sensitivitas sosial dalam berkomunikasi, bukan kapasitas otak yang berbeda secara radikal.