Tumbuhan mahang (Macaranga), yang selama ini dikenal sebagai tanaman pionir di berbagai wilayah Indonesia, kini menyimpan harapan baru bagi dunia medis. Kelompok peneliti bahan alam dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga telah mengidentifikasi potensi besar tanaman ini sebagai bahan baku obat antikanker yang lebih aman.

Melalui riset mendalam terhadap spesies Macaranga aenigmatica yang endemik di Morowali, Sulawesi Tengah, tim peneliti berhasil mengisolasi senyawa turunan stilbenoid. Penemuan ini mencakup senyawa baru seperti macaenigmaticin A, mappain, dan makapruinosin A. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa macaenigmaticin A memiliki aktivitas tinggi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker darah (P388).

Keberhasilan ini merupakan kelanjutan dari rekam jejak riset sepuluh tahun terakhir yang dilakukan oleh tim Departemen Kimia UNAIR. Konsistensi dalam meneliti potensi metabolit sekunder tanaman mahang menempatkan kelompok riset ini di posisi kedua dunia dalam publikasi jurnal ilmiah bereputasi terkait senyawa antikanker dari genus tersebut.

Penemuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Natural Product Research ini memberikan angin segar bagi penanganan penyakit leukimia di Indonesia. Penggunaan bahan alam dalam terapi kanker kini semakin diminati masyarakat karena dinilai memiliki profil keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan metode kemoterapi konvensional seperti penggunaan senyawa pengalkilasi atau antimetabolit.

Selain kanker darah, penelitian sebelumnya pada genus Macaranga juga telah menunjukkan efektivitas terhadap berbagai jenis sel kanker lainnya, termasuk kanker paru-paru, payudara, rahim, hingga glioblastoma. Temuan ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi alternatif pengobatan yang terjangkau dan efektif bagi penderita kanker di Tanah Air.