SURABAYA — Potensi perkembangan industri pemasaran afiliasi (affiliate marketing) di Indonesia diproyeksikan akan mengalami lonjakan signifikan dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang. Kendati demikian, ekosistem bisnis digital ini dinilai masih berada pada tahap awal jika dibandingkan dengan negara berkembang pesat seperti Tiongkok, sehingga membuka ruang pertumbuhan yang sangat luas bagi pelaku ekonomi kreatif lokal.

Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Pendiri DIGIMARU, Michael Sugiharto, mengungkapkan bahwa rasio antara jumlah pelaku bisnis afiliasi dengan total pengguna media sosial di tanah air masih sangat timpang. Dari sekitar 194 juta pengguna aktif platform TikTok di Indonesia, jumlah afiliator diperkirakan belum mencapai dua juta orang. Kondisi ini menandakan bahwa pasar pemasaran digital berbasis komisi di dalam negeri masih tergolong pasar potensial yang belum tergarap maksimal.

Tantangan utama yang masih dihadapi saat ini adalah belum meratanya pemahaman para pemilik merek (brand) lokal terkait mekanisme pemasaran digital tersebut. Menurut Michael, brand internasional cenderung lebih cepat beradaptasi dalam memanfaatkan strategi afiliasi, mulai dari alur pengiriman sampel produk hingga penetapan sistem komisi, sementara sebagian brand lokal masih terkesan lambat dalam mengambil peluang ini.

Guna mempercepat edukasi dan menjembatani kesenjangan tersebut, Superstar Agency bersama DIGIMARU menggelar ajang Superstar Affiliate Revolution di Surabaya pada 5–6 September 2026. CEO Superstar Agency, Andri Firmansyah, menjelaskan bahwa forum ini mempertemukan sekitar 700 hingga 900 afiliator asal Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan hampir 50 brand terkemuka untuk membangun kolaborasi bisnis secara langsung.

Melalui program edukatif seperti ini, para calon afiliator didorong untuk menguasai pemahaman mendasar mengenai strategi konten sebelum mempraktikkannya secara konsisten. Pembuktian nyata terlihat dari kisah Novika, peserta asal Bojonegoro yang menekuni kategori home living di TikTok. Dengan konsistensi memproduksi sepuluh konten berdurasi singkat setiap hari, ia optimistis mampu mengamankan peluang pendapatan digital secara berkelanjutan.