Pekan krusial menanti bursa saham sektor teknologi seiring dengan rencana perilisan laporan keuangan kuartalan dari sejumlah raksasa teknologi asal China. Kinerja keuangan ini diproyeksikan menjadi indikator kuat bagi investor dalam membaca arah sentimen pasar, terutama terkait alokasi belanja di sektor kecerdasan buatan (AI). Dua raksasa industri, Tencent Holdings Ltd dan Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC), dijadwalkan mengumumkan rapor keuangan mereka pada Rabu (13/8), disusul oleh platform e-commerce raksasa JD.com Inc pada Kamis (14/8).
Publikasi kinerja ini akan menjawab dinamika pasar saat ini: apakah investor masih condong pada saham-saham internet dan konsumer yang sedang naik daun, atau akan kembali melirik sektor manufaktur cip. Belakangan ini, mulai terlihat pergeseran preferensi pemodal yang beralih ke saham berbasis layanan internet setelah reli panjang saham-saham bertema AI mengalami jenuh. Hal ini tecermin dari penguatan harga saham JD.com dan Alibaba Group Holding Ltd sejak awal Juli lalu, berbanding terbalik dengan saham produsen cip SMIC yang cenderung tertekan.
Analis menilai tren pemulihan saham internet masih berpeluang berlanjut. Leonid Mironov, Manajer Portofolio di Gavekal Capital Ltd, menjelaskan bahwa Alibaba dan Tencent menawarkan prospek investasi AI yang berbeda secara fundamental dibanding SMIC maupun emiten semikonduktor lainnya. Pilihan kini berada di tangan investor untuk menentukan model bisnis mana yang dinilai lebih prospektif di tengah situasi ekonomi global saat ini.
Sektor internet dan e-commerce menunjukkan tanda-tanda perbaikan profitabilitas yang signifikan. HSBC Holdings Plc memproyeksikan laba bersih disesuaikan milik JD.com akan tumbuh sebesar 18 persen secara tahunan menjadi 8,7 miliar yuan (sekitar Rp23,05 triliun) pada kuartal kedua tahun ini. Capaian positif ini didorong oleh efisiensi besar-besaran, termasuk menyusutnya kerugian dari divisi pengiriman makanan berkat iklim kompetisi domestik yang mulai rasional.
Nada optimistis serupa juga dialamatkan untuk Meituan. Riset dari Citigroup Inc menunjukkan potensi kinerja Meituan melampaui estimasi awal pasar, seiring dengan keberhasilan perusahaan menekan kerugian secara cepat akibat pengurangan subsidi konsumen. Sebaliknya, raksasa cip SMIC diprediksi menghadapi tantangan berat untuk merealisasikan target margin kotor di kisaran 20 persen hingga 22 persen, meskipun pertumbuhan penjualan kuartalan diperkirakan tumbuh positif antara 14 persen hingga 16 persen dibanding kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, pelaku pasar akan mencermati proyeksi kinerja kuartal ketiga serta rencana belanja modal (capex) untuk infrastruktur AI. Gary Tan, Manajer Portofolio di Allspring Global Investments, berpendapat bahwa apabila emiten internet kembali meningkatkan intensitas investasi infrastruktur AI mereka di tengah melambatnya bisnis konsumer utama, maka fokus pasar kemungkinan besar akan kembali tertuju pada saham semikonduktor yang menyediakan perangkat keras bagi teknologi masa depan tersebut.