Program Studi Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengambil langkah strategis dengan meninjau ulang visi dan kurikulum akademik untuk periode 2027/2028. Langkah ini dilakukan melalui lokakarya khusus yang melibatkan berbagai mitra dari dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDI) guna memastikan kompetensi lulusan selaras dengan kebutuhan pasar kerja saat ini.

Kegiatan yang berlangsung melalui metode Focus Group Discussion (FGD) ini dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kota Surakarta, Dinas Kesehatan se-Solo Raya, lembaga swadaya masyarakat bidang kesehatan, praktisi, akademisi, hingga alumni. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka untuk menyerap evaluasi dan masukan konkret mengenai kurikulum yang berjalan selama ini.

Ketua Prodi Kesmas UMS, Izzatul Arifah, M.P.H., mengungkapkan bahwa salah satu masukan penting yang diusulkan oleh para mitra kerja adalah perpanjangan durasi Magang dan Praktik Belajar Lapangan (PBL). Waktu praktik yang lebih lama dinilai penting agar mahasiswa memiliki pemahaman yang matang mengenai sistem kerja riil di lapangan. Selain itu, kolaborasi institusi diharapkan ditindaklanjuti dengan program kerja yang memiliki indikator keberhasilan yang jelas, bukan sekadar kesepakatan formal.

Aspek sikap kerja dan profesionalisme mahasiswa juga menjadi sorotan penting dalam diskusi tersebut. Mahasiswa magang diharapkan dapat menunjukkan kedisiplinan dan tanggung jawab tinggi di lingkungan kerja mitra. Berbagai masukan ini akan menjadi bahan evaluasi utama dalam merumuskan kurikulum baru yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dari sisi pengembangan kompetensi komunikasi, alumni sekaligus influencer lokal, Hestu, mendorong penguatan kemampuan public speaking serta pemanfaatan media sosial bagi mahasiswa. Di era digital, lulusan kesehatan masyarakat dituntut mampu memformulasikan pesan edukasi kesehatan secara kreatif, menarik, dan bertanggung jawab untuk menangkal disinformasi di ruang publik.

Menutup rangkaian masukan, pakar kesehatan lingkungan Polkesyo, Prof. Dr. Heru Subaris Kasjono, menegaskan pentingnya integrasi aspek digitalisasi ke dalam mata kuliah utama untuk menghadapi tantangan pembelajaran lima tahun ke depan. Apresiasi juga datang dari dr. Kshanti Adhitya dari RSO Soeharso, yang berharap langkah penyelarasan ini melahirkan agen perubahan kesehatan masyarakat yang berdaya saing global.