Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menerima kunjungan kehormatan dari Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, Ye Su, bersama delegasi Angkatan Laut RRT yang dipimpin Komandan Armada Kapten Senior Liu Zhanfeng. Pertemuan yang berlangsung hangat di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan bilateral kedua negara.

Kunjungan ini bertepatan dengan agenda latihan terpadu dan kunjungan persahabatan kapal latih Qi Jiguang-83 serta kapal pendarat amfibi Kun Lun Shan-998 milik Angkatan Laut Tiongkok (PLA Navy). Kedua kapal perang tersebut bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, mulai 2 hingga 6 Agustus 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Khofifah menekankan pentingnya transfer teknologi di sektor industri perkapalan. Mengingat 80 persen wilayah Indonesia terdiri dari perairan, kolaborasi teknologi pertahanan maritim dinilai sangat strategis untuk meningkatkan kapasitas armada nasional serta memperluas konektivitas antarwilayah kepulauan.

Khofifah menjelaskan bahwa Jawa Timur, khususnya Surabaya, merupakan episentrum pertahanan matra laut Indonesia. Wilayah ini tidak hanya menjadi markas komando militer seperti Koarmada II, Akademi Angkatan Laut (AAL), dan Kodiklatal, tetapi juga pusat industri galangan kapal nasional melalui PT PAL Indonesia yang memproduksi alat utama sistem pertahanan (alutsista) laut, termasuk kapal selam.

Selain teknologi militer, diskusi juga menyoroti jejak sejarah Laksamana Cheng Ho, diplomat legendaris asal Tiongkok yang menyebarkan perdamaian dan toleransi beragama di Nusantara tanpa melalui invasi militer. Warisan nilai tersebut kini diabadikan melalui keberadaan berbagai Masjid Cheng Ho yang tersebar di Jawa Timur, seperti di Surabaya, Jember, dan Pandaan.

Sebagai bentuk keramahan lokal, Khofifah memperkenalkan komoditas unggulan baru berupa salak madu asal Kasembon, Kabupaten Malang, kepada para delegasi. Sementara itu, Konsul Jenderal RRT Ye Su mengapresiasi kemajuan pesat Jawa Timur di bawah kepemimpinan Khofifah, khususnya dalam iklim investasi yang semakin menarik minat perusahaan-perusahaan asal Tiongkok.