Di tengah era disrupsi teknologi, perubahan iklim, serta ketidakpastian rantai pasok global, kolaborasi internasional menjadi pilar utama dalam menjaga daya saing industri. Hal ini mengemuka dalam Pertemuan Menteri Industri BRICS ke-10 (The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers) yang diselenggarakan di Jaipur, India. Pertemuan tersebut menyoroti penguatan kerja sama melalui skema BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) guna membangun sektor industri yang tangguh dan berkelanjutan.
Wakil Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza, menegaskan bahwa kemitraan strategis dalam forum BRICS membawa dampak nyata bagi pembangunan industri nasional. Menurutnya, transformasi industri tidak hanya bertujuan meningkatkan daya saing, melainkan juga membuka keran investasi baru, memacu inovasi, memperluas pasar perdagangan, dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat.
Sektor manufaktur sendiri memegang peranan krusial bagi perekonomian Indonesia. Pada kuartal pertama tahun ini, sektor ini berkontribusi lebih dari 19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menyerap setidaknya 20 juta tenaga kerja, dan menyumbang lebih dari 82 persen dari total nilai ekspor nasional. Catatan positif ini memosisikan Indonesia sebagai mitra strategis yang siap berkontribusi aktif dalam rantai pasok global.
Forum BRICS kali ini memfokuskan pembahasan pada empat sektor prioritas, yakni pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), ekosistem startup, logistik industri, serta pengembangan industri panel surya. Keempat sektor tersebut dinilai saling berintegrasi dalam membentuk ekosistem industri modern yang adaptif terhadap transisi teknologi global.
Indonesia juga membagikan keberhasilan program pembinaan Industri Kecil dan Menengah (IKM). Saat ini, sektor IKM mendominasi hingga 99,8 persen unit usaha di tanah air, menyerap 65 persen tenaga kerja sektor industri, dan menyumbang 21 persen nilai tambah manufaktur nonmigas. Pemerintah berkomitmen meningkatkan akses pembiayaan dan adopsi teknologi agar IKM lokal dapat naik kelas ke rantai pasok global.
Selain itu, melalui program Startup4Industry, Kementerian Perindustrian telah menghubungkan lebih dari 2.500 startup digital dengan berbagai pelaku industri, investor, dan akademisi. Langkah ini mencakup pengembangan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI), manufaktur pintar, robotika, teknologi hijau, hingga industri semikonduktor, yang diharapkan mampu memperkuat inisiatif BRICS Incubator Network dan BRICS Startup Knowledge Hub.