Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kini memasuki babak baru melalui penerapan pendekatan yang komprehensif dan terpadu. Langkah penanganan tidak lagi berfokus semata pada aksi pemadaman kobaran api di lapangan, melainkan turut menyentuh aspek pemulihan struktur tanah dan pemeliharaan kawasan pascabencana, khususnya pada ekosistem tanah gambut.

Strategi terintegrasi ini terwujud berkat kolaborasi erat antara TNI, Polri, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat setempat. Salah satu pilar utamanya adalah penerapan inovasi teknologi tanah Bios 44 Patigeni. Teknologi ini difungsikan untuk menjaga tingkat kelembapan serta memperbaiki kondisi fisik tanah gambut agar kerawanan timbulnya titik api berulang dapat ditekan secara signifikan.

Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak boleh berhenti saat pemadaman usai. Menurutnya, pemulihan ekosistem tanah pascakebakaran memiliki bobot krusial yang sama besarnya dengan pemadaman itu sendiri. Mengingat karakter spesifik tanah gambut, pengelolaannya membutuhkan kecermatan tinggi agar tidak menyisakan potensi kebakaran susulan di kemudian hari.

Sinergi lintas sektor ini membagi peran secara proporsional. TNI memperkuat koordinasi kesiapsiagaan dan pemberdayaan wilayah, sementara Polri mengawal aspek pengamanan, edukasi pencegahan, hingga penegakan hukum. Di sisi lain, pemerintah daerah menyokong pemetaan kawasan dan manajemen sumber daya, sedangkan jajaran akademisi memberikan landasan kajian ilmiah, pengujian, serta evaluasi teknis agar penerapan teknologi tepat sasaran.

Pemanfaatan inovasi berbasis bahan baku lokal ini diharapkan menjadi benteng mitigasi bencana yang berkelanjutan di Kalimantan Barat. Melalui kerja sama yang terukur dan berkesinambungan, penanganan karhutla ditargetkan tak hanya mampu mengendalikan api secara cepat, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan serta melindungi kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.