Memperkuat layanan kesehatan primer tidak bisa hanya mengandalkan kecanggihan fasilitas medis dan teknologi modern. Partisipasi aktif dari masyarakat serta kolaborasi yang solid antar-sektor menjadi fondasi utama demi mewujudkan derajat kesehatan yang lebih baik dan merata.
Pandangan tersebut dikemukakan oleh Yulizawati, akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (UNAND), dalam forum akademik bergengsi International Conference on Health Sciences (ICHS) 2026. Konferensi internasional yang diselenggarakan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada awal Agustus lalu ini menjadi panggung diseminasi hasil risetnya mengenai penguatan layanan kesehatan di Kota Padang.
Dalam presentasinya, Yulizawati memaparkan penelitian bertajuk Strengthening Primary Health Care Through Community Empowerment and Cross-Sector Collaboration: A Community Engagement Initiative in Padang, Indonesia. Riset ini menyoroti bahwa berbagai kendala kesehatan seperti stunting, kesehatan ibu dan anak, penyakit tidak menular, hingga disparitas akses layanan medis memerlukan solusi komprehensif serta berkelanjutan yang melibatkan warga setempat secara langsung.
Menurut Yulizawati, masyarakat tidak boleh diposisikan sebagai konsumen pasif layanan kesehatan. Sebaliknya, mereka harus menjadi agen perubahan melalui edukasi kesehatan terpadu dan pemberdayaan keluarga. Edukasi tersebut dirancang bukan sekadar sosialisasi satu arah, melainkan proses transfer pengetahuan agar masyarakat mampu mengidentifikasi masalah sekaligus merumuskan solusi mandiri di lingkungan mereka.
Integrasi program pemberdayaan, seperti optimalisasi Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), layanan keluarga berencana, serta pemantauan tumbuh kembang balita terbukti meningkatkan pemahaman dan perilaku sehat masyarakat. Selain itu, keterlibatan aktif kaum perempuan—khususnya para ibu dan bidan—memegang peranan strategis dalam menopang kesehatan keluarga, yang juga selaras dengan target pembangunan berkelanjutan (SDGs) terkait kesetaraan gender.
Keberhasilan model ini, tambah Yulizawati, membutuhkan sinergi yang kokoh antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, puskesmas, serta kader posyandu. Melalui kemitraan yang berkelanjutan ini, model pemberdayaan kesehatan primer yang berorientasi pada masyarakat diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Indonesia yang memiliki karakteristik serupa.