BANDA ACEH — Universitas Syiah Kuala (USK) memperkuat komitmennya dalam memajukan komoditas unggulan lokal melalui kemitraan strategis bersama International Labour Organization (ILO). Kerja sama ini dirancang untuk mendobrak keterbatasan skema pendampingan konvensional, beralih dari sekadar program pelatihan menuju pembentukan ekosistem bisnis terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Kesepakatan tersebut ditegaskan dalam pertemuan antara perwakilan ILO, Deputi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan Rektor USK Prof. Mirza Tabrani di Banda Aceh. Melalui kolaborasi yang telah berjalan selama empat tahun bersama Atsiri Research Center (ARC) USK, ILO menyatakan komitmennya untuk terus memperluas jangkauan pendampingan bagi para pelaku usaha di Aceh.
Project Manager Promise II Impact ILO Jakarta, Djauhari Sitorus, menjelaskan bahwa dukungan ke depan akan difokuskan pada penguatan kelembagaan UMKM, literasi keuangan, perencanaan bisnis, hingga transformasi digital. Selain itu, ILO siap memfasilitasi koordinasi lintas sektor antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan kementerian terkait demi terciptanya sinergi kebijakan yang berkelanjutan.
Di sisi lain, Rektor USK Prof. Mirza Tabrani menegaskan pentingnya membangun kemandirian ekonomi yang tidak bergantung pada program bantuan jangka pendek. Sebagai langkah konkret, USK menyiapkan sebuah badan usaha komersial berbasis business-to-business (B2B) untuk mengelola rantai pasok nilam. Model ini diharapkan dapat menghubungkan petani secara langsung dengan industri pengolahan dan pasar global, sekaligus memberikan kepastian harga serta nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Aceh.