Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) secara resmi membentuk kelompok studi klinis baru bernama Special Interest Group (SIG) Sarkopenia. Langkah strategis ini diumumkan dalam webinar nasional bertajuk “Inisiasi Kerja Interdisiplin dalam Tatalaksana Sarkopenia” yang berlangsung pada Minggu (12/7), sebagai upaya nyata menanggapi ancaman penurunan massa dan fungsi otot yang kian meningkat di tanah air.
Data dari Asian Working Group for Sarcopenia (AWGS) mencatat prevalensi sarkopenia mencapai 29% di kawasan Asia-Pasifik, yang memicu tingginya risiko mortalitas serta disabilitas pada kelompok lansia. Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum PP PERDOSRI, Dr. dr. Rumaisah Hasan, Sp.K.F.R., menegaskan bahwa kondisi kelemahan otot bukanlah konsekuensi penuaan yang harus dimaklumi, melainkan kondisi medis yang memerlukan penanganan terukur melalui paradigma berbasis fungsi.
Dalam upaya memperkuat penegakan diagnosis, PERDOSRI mendorong penggunaan metode skrining berjenjang, mulai dari kuesioner SARC-F hingga penggunaan ultrasonografi (USG) muskuloskeletal. Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) melalui studi SARCO X turut diperkenalkan. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi skrining di fasilitas kesehatan primer seperti Puskesmas dengan meminimalisasi kebutuhan tes fisik konvensional hingga 38,1%.
Sebagai panduan praktis, PERDOSRI merumuskan tiga pilar utama untuk menjaga kekuatan otot, yaitu pemenuhan asupan protein harian sebesar 1,2–1,6 gram per kilogram berat badan, penerapan latihan beban secara rutin minimal 2–3 kali seminggu, serta menjaga kadar vitamin D yang optimal. Strategi ini diharapkan mampu menjadi dasar dalam membangun “tabungan otot” bagi masyarakat Indonesia sejak usia produktif.
Pembentukan SIG Sarkopenia diharapkan menjadi wadah riset terapan yang berkelanjutan guna menyusun panduan praktik klinis nasional yang integratif. Langkah ini menegaskan komitmen PERDOSRI dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih proaktif, efisien, dan inklusif bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.