Sektor perdagangan saham daring di Jepang kini memperketat sistem keamanan guna meminimalisir tindak kejahatan siber yang marak terjadi sejak awal tahun lalu. Sebanyak 15 perusahaan sekuritas terkemuka, termasuk nama-nama besar seperti Nomura, Daiwa, dan SMBC, resmi mengimplementasikan protokol verifikasi identitas tingkat lanjut yang berbasis biometrik sejak Juni lalu.

Langkah preventif ini diambil sebagai respons atas meningkatnya aktivitas kriminal yang menargetkan akun investor melalui pencurian ID login dan kata sandi. Modus operandi yang sering digunakan pelaku adalah teknik phishing, di mana korban digiring masuk ke situs web palsu untuk mencuri informasi kredensial. Meskipun tingkat serangan telah menurun sejak puncaknya, kerugian finansial yang ditimbulkan dari akses ilegal ini masih menyentuh angka 2,6 miliar yen.

Untuk merespons ancaman tersebut, Asosiasi Sekuritas Jepang dan Badan Jasa Keuangan telah mengeluarkan panduan resmi yang mewajibkan penerapan otentikasi multi-faktor. Kewajiban ini mencakup prosedur login hingga proses penarikan dana sebagai bentuk perlindungan aset investor. Namun, implementasi teknologi ini menyisakan tantangan tersendiri, terutama bagi nasabah lanjut usia yang mungkin mengalami kesulitan teknis dalam penggunaan verifikasi wajah atau sidik jari.

Kebijakan ini menjadi standar baru dalam industri keuangan digital di Jepang, memastikan bahwa setiap transaksi saham daring memiliki lapisan keamanan tambahan yang lebih tangguh dibanding sekadar kata sandi konvensional.