Demam Piala Dunia 2026 yang berlangsung di tiga negara tuan rumah—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—tidak hanya menyajikan ketegangan di atas lapangan hijau. Di balik layar, kompetisi sengit juga terjadi di ranah komersial, mempertemukan dua raksasa perlengkapan olahraga global, Adidas dan Nike, dalam perebutan panggung promosi paling bergengsi di dunia.
Menjelang laga final yang mempertemukan Argentina melawan Spanyol di New York/New Jersey pada Minggu (19/7), Adidas dipastikan keluar sebagai pemenang mutlak dalam "perang jersei" kali ini. Keberhasilan kedua negara menembus partai puncak memastikan trofi emas akan diangkat oleh tim yang mengenakan apparel berlogo tiga garis tersebut. Selain itu, Adidas diuntungkan oleh kehadiran sang megabintang Lionel Messi serta talenta muda Spanyol, Lamine Yamal, yang menjadi magnet utama perhatian dunia.
Kontras dengan sang rival, Nike harus menerima kenyataan pahit setelah tim-tim unggulan mereka tumbang sebelum partai puncak. Prancis dan Inggris, yang menjadi representasi utama jenama asal Amerika Serikat tersebut, gagal melangkah ke final dan hanya akan memperebutkan posisi ketiga di Miami. Hal ini menjadi pukulan tersendiri bagi Nike yang gagal memaksimalkan momentum turnamen di rumah mereka sendiri.
Di atas persaingan kedua produsen olahraga tersebut, FIFA menjadi entitas yang paling diuntungkan secara finansial. Dengan format baru yang melibatkan 48 tim dan 104 pertandingan, FIFA mencetak rekor pendapatan sponsor sebesar 2,8 miliar dolar AS atau setara dengan Rp49,9 triliun. Angka fantastis ini melonjak signifikan dibandingkan perolehan Piala Dunia 2022 di Qatar yang mencatatkan pemasukan sebesar 1,8 miliar dolar AS.
Menariknya, ketatnya regulasi hak eksklusif sponsor FIFA juga melahirkan strategi pemasaran kreatif dari pihak non-sponsor. Salah satu contoh paling ikonik ditunjukkan oleh Levi's. Ketika logo raksasanya di Stadion Levi's Santa Clara harus ditutup kain putih demi mematuhi aturan FIFA, produsen denim tersebut justru memanfaatkannya dengan meluncurkan kampanye digital bertajuk "The logo disappeared, the brand didn't," yang sukses memicu interaksi luas di media sosial tanpa harus membayar biaya sponsor yang mahal.