Salamander raksasa, amfibi terbesar yang masih bertahan di bumi saat ini, menyimpan sejarah evolusi yang panjang dengan perubahan fisik yang sangat minim selama jutaan tahun. Keseragaman anatomi ini kerap menyulitkan para peneliti untuk membedakan spesies purba yang berbeda karena struktur tulangnya yang tampak hampir identik.
Tantangan tersebut mulai terurai setelah tim ilmuwan dari Kyoto University melakukan analisis ulang terhadap tiga fosil tulang belakang yang ditemukan oleh kolektor Eiichi Kitabayashi pada akhir era 1990-an. Fosil-fosil berharga ini ditemukan di tepi Sungai Fukami, Prefektur Oita, Pulau Kyushu, Jepang, pada lapisan sedimen berumur 3,5 juta tahun yang berasal dari periode Pliosen Akhir.
Pada masa awal penemuannya, fosil tersebut diklasifikasikan ke dalam genus Andrias, kelompok salamander raksasa Asia Timur yang masih hidup hingga kini. Keterbatasan spesimen pembanding kala itu membuat para peneliti terdahulu tidak dapat menarik kesimpulan yang lebih spesifik.
Melalui penelitian terbaru yang memanfaatkan teknologi pemindaian mikro-CT, para ilmuwan berhasil mengungkap detail struktur internal tulang yang tidak terlihat pada pemeriksaan luar. Analisis mendalam menunjukkan bahwa tulang belakang bagian tengah memiliki karakteristik unik yang belum pernah tercatat pada spesies salamander raksasa mana pun.
Ciri khas tersebut terlihat pada bagian sentrum tulang belakang yang berbentuk kompak—cenderung pendek dari depan ke belakang tetapi tinggi dari atas ke bawah. Selain itu, persendian yang menghubungkannya dengan tulang lain melebar ke samping dengan tumpuan yang sangat tebal, memastikan bahwa temuan ini merupakan spesies baru dari masa lampau.