Lapangan Haji Muhammad Hasan Gayo Blang Bebangka di Kabupaten Aceh Tengah kembali bergemuruh. Arena bekas Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024 tersebut sukses menyelenggarakan babak final kejuaraan Pacu Kuda dalam rangka memperingati HUT RI ke-81. Kompetisi yang berlangsung dari 24 hingga 30 Agustus 2026 ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Letjen TNI Purn Marciano Norman, saat rangkaian final pertama dimulai pada Kamis (29/8/2026).
Kolaborasi apik antara Konfederasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (KN Pordasi) dengan Pengurus Pusat serta Pengurus Provinsi FN Pordasi Pacu Aceh berhasil menjaring partisipasi luas dari tiga daerah, yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Kejuaraan ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, melainkan juga didedikasikan untuk menghibur sekaligus membangkitkan moral masyarakat Aceh pascabencana alam.
Marciano Norman memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi penyelenggaraan kejuaraan pasca-PON ini. Menurutnya, kesinambungan kompetisi sangat krusial untuk menjaring dan membina bibit atlet berkuda tangguh asal Aceh yang diproyeksikan berlaga di kancah nasional, khususnya menyongsong PON XXII 2028 di Sumba, Nusa Tenggara Timur, hingga tingkat internasional.
Selain aspek prestasi, Ketua Umum KONI Pusat tersebut menyoroti pentingnya perawatan dan pemanfaatan fasilitas warisan PON XXI. Lapangan Blang Bebangka dinilai sebagai salah satu lintasan pacuan kuda terbaik di tanah air dengan antusiasme penonton yang luar biasa. Hal ini membuktikan bahwa infrastruktur olahraga pasca-event besar dapat memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi daerah melalui sektor pariwisata olahraga (sport tourism).
Pada hari pertama babak final, sejumlah kuda pacu unggulan berhasil mencatatkan prestasi gemilang di berbagai kategori kelas. Kuda bernama Peluru Kendali asal Aceh Tengah memenangi Kelas Gayo Muda 1000 meter, disusul Lintes Genting Kanis yang menjuarai F Final Muda 1100 meter. Sementara itu, perwakilan Bener Meriah mendominasi di beberapa kelas lainnya, termasuk Nur Jadi (E Muda 1100 meter) dan Albatros (F Tua 1400 meter). Kemenangan ini menegaskan dominasi dan potensi besar olahraga berkuda di wilayah dataran tinggi Gayo.