Kasus minimnya empati dalam komunikasi sejumlah tenaga kesehatan (nakes) yang sempat viral di media sosial memicu sorotan tajam publik. Merespons fenomena tersebut, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menegaskan bahwa peningkatan kualitas pelayanan kesehatan tidak bisa hanya bertumpu pada imbauan moral individu, melainkan harus diintegrasikan ke dalam sistem pelayanan yang menyeluruh.

Kepala Bidang Humas PB IDI, Dr. dr. Cashtry Meher, menyatakan bahwa empati di lingkungan medis harus ditumbuhkan melalui budaya organisasi yang kuat, didukung oleh kurikulum pendidikan yang tepat, serta dilindungi oleh sistem kerja yang kondusif. Menurutnya, kepemimpinan dalam institusi kesehatan memiliki peran yang sama krusialnya dengan profesionalisme individu nakes di lapangan.

Guna mewujudkan transformasi pelayanan tersebut, PB IDI merumuskan empat agenda strategis. Pertama, komunikasi empatik wajib dijadikan kompetensi dasar bagi setiap tenaga medis. Keterampilan ini harus ditanamkan sejak masa pendidikan profesi dan terus diasah melalui program pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Kedua, pemeliharaan etika profesi di ruang publik digital. Cashtry mengingatkan bahwa di era media sosial yang dinamis, identitas dan etika seorang tenaga kesehatan tidak hilang saat mereka melepas jas praktik. Setiap interaksi digital nakes berdampak langsung pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sektor kesehatan secara keseluruhan.

Ketiga, pembentukan sistem pencegahan kejenuhan kerja atau burnout. Masalah kelelahan fisik dan mental yang rentan dialami nakes akibat beban kerja tinggi harus dimitigasi. Hal ini dapat dicapai melalui penciptaan lingkungan kerja yang sehat, penyediaan dukungan psikososial, kepemimpinan yang suportif, serta tata kelola kerja yang mengutamakan keselamatan bersama.

Keempat, penguatan budaya keselamatan pasien (patient safety culture). Agenda ini diharapkan mampu mendorong transparansi, evaluasi berkelanjutan, dan keterbukaan yang menjadi karakter utama instansi pelayanan medis. Keempat langkah strategis ini membutuhkan kolaborasi erat dari berbagai pihak, mulai dari institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, pemerintah, media, hingga masyarakat luas.