LABUAN BAJO — Tim relawan kesehatan dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh bergerak cepat setibanya di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mengemban misi kemanusiaan untuk membantu penanganan dampak gempa bumi, tim yang terdiri dari tujuh ahli medis ini langsung melakukan konsolidasi dengan otoritas kesehatan setempat guna menyelaraskan langkah penanganan di lapangan.
Rombongan yang dipimpin oleh akademisi Fakultas Kedokteran USK, T. Maulana, S.K.M., M.Kes., Ph.D., mendarat di Labuan Bajo pada Senin (24/8/2026) sore. Tanpa membuang waktu, pada malam harinya mereka langsung menghadiri rapat koordinasi strategis di Pusat Operasi Kedaruratan Kesehatan atau Health Emergency Operations Center (HEOC) yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat.
T. Maulana menjelaskan bahwa langkah taktis ini krusial untuk memastikan seluruh dukungan medis serta sistem pengawasan penyakit yang dibawa tepat sasaran. Menurutnya, koordinasi satu pintu di bawah komando pemerintah daerah sangat penting agar intervensi berjalan efektif, terarah, dan tidak tumpang tindih dengan program pemulihan yang sedang berjalan.
Delegasi tanggap darurat dari USK ini diperkuat oleh sejumlah praktisi dan akademisi lintas disiplin. Selain T. Maulana, tim ini beranggotakan spesialis ortopedi Dr. dr. T. Nanta Aulia, Guru Besar Fakultas Keperawatan Prof. Dr. Ners. Marlina, serta dosen keperawatan Ns. Abul A’la Tarigan. Dukungan operasional medis lapangan juga diperkuat oleh dua dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), dr. Ikhsanuddin Basili (bedah) dan dr. Alfisyahrin Kamil (ortopedi), serta teknisi laboratorium Shahibul Mighvar.
Dalam masa penugasan selama 14 hari ke depan, tim medis ini akan memusatkan baktinya di RSUD Komodo, Labuan Bajo. Fokus utama mereka tidak hanya pada pelayanan kuratif seperti tindakan bedah dan penanganan cedera fisik, tetapi juga memperkuat aspek kesehatan masyarakat melalui pengawasan epidemiologi untuk mengantisipasi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular di posko pengungsian.
Pemerintah daerah setempat menyambut baik kehadiran tim relawan ini guna mempercepat pemulihan fasilitas kesehatan yang terdampak bencana. Kolaborasi erat antara tim medis luar daerah dengan tenaga kesehatan lokal diharapkan mampu mempercepat pemenuhan kebutuhan obat-obatan, optimalisasi sarana prasarana, serta penyediaan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) bagi para penyintas.