Indeks pasar saham global menunjukkan pergerakan yang dinamis seiring dengan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan. Analisis terbaru dari Deutsche Bank mengungkapkan bahwa melandainya Indeks Harga Konsumen (IHK) AS memberikan sentimen positif bagi investor, memicu penyesuaian suku bunga yang lebih bersahabat (dovish), serta menopang penguatan indeks utama seperti S&P 500 dan NASDAQ.
Meskipun pasar secara keseluruhan menguat, terjadi disparitas performa yang cukup tajam di dalam sektor teknologi. Di satu sisi, produsen cip global mencatatkan pertumbuhan signifikan yang mendorong indeks semikonduktor Philadelphia melonjak hingga 2,54 persen. Di sisi lain, industri perangkat lunak justru tertekan hebat, ditandai dengan anjloknya saham IBM sebesar 25,21 persen—penurunan harian tertajam perusahaan tersebut sejak tahun 1968 akibat kinerja keuangan yang berada di bawah ekspektasi analis. Pelemahan ini juga diikuti oleh emiten perangkat lunak lain seperti ServiceNow dan Adobe.
Selain sentimen dari sektor teknologi, laporan laba kuartalan sektor perbankan turut menjadi motor penggerak Wall Street. Goldman Sachs memimpin penguatan sektor keuangan dengan lonjakan saham sebesar 9,00 persen setelah melampaui estimasi pendapatan pasar. Tren positif ini diikuti oleh JPMorgan dan Bank of America yang masing-masing menguat 2,50 persen dan 1,88 persen, memberikan dorongan tambahan bagi indeks perbankan KBW.
Dari kawasan regional, bursa saham Asia dan Eropa mayoritas bergerak di zona hijau. Indeks KOSPI Korea Selatan memimpin penguatan di Asia, disusul oleh kenaikan solid dari Nikkei Jepang dan Hang Seng Hong Kong. Namun, pasar saham China daratan cenderung stagnan akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi (PDB) kuartal kedua yang hanya tumbuh 4,3 persen secara tahunan, meleset dari target pasar sebesar 4,5 persen. Sementara itu, bursa Eropa mencatatkan penguatan tipis dengan indeks STOXX 600 mencapai level tertinggi dalam sepekan terakhir.