PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menyatakan komitmennya untuk tetap menjalankan Rencana Bisnis Bank (RBB) yang telah ditetapkan tahun ini, meskipun dihadapkan pada dinamika dan ketidakpastian ekonomi global. Manajemen menegaskan bahwa hingga saat ini, seluruh realisasi target perseroan masih berjalan di jalur yang tepat dan belum memerlukan perubahan strategi.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit tetap menjadi fokus utama perusahaan. BNI menargetkan ekspansi kredit tahunan di kisaran 8% hingga 10% secara tahunan (year on year/yoy). Optimisme ini didasari oleh pencapaian kuartal pertama tahun 2026, di mana pertumbuhan kredit perseroan sempat menyentuh angka 20,1% (yoy).

Hingga posisi Mei 2026, kinerja keuangan BNI menunjukkan hasil yang positif dengan perolehan laba bersih secara individual mencapai Rp9,05 triliun atau tumbuh 7,1% (yoy). Pencapaian ini didorong oleh kuatnya pendapatan bunga bersih yang mencatatkan kenaikan sebesar 15,19% (yoy) menjadi Rp18,12 triliun, angka tertinggi di antara bank-bank besar lainnya.

Di sisi lain, perseroan tetap menerapkan langkah mitigasi risiko melalui peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai (impairment) sebesar Rp3,72 triliun. Paolo menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari kehati-hatian perbankan di tengah pertumbuhan kredit yang masif, dengan nilai penyaluran kredit yang mencapai Rp940,88 triliun hingga Mei 2026.

Dukungan likuiditas BNI pun terpantau stabil, terlihat dari lonjakan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh 33,15% (yoy) menjadi Rp1.063,92 triliun pada periode yang sama. Dengan fondasi finansial tersebut, pihak manajemen menyatakan tetap percaya diri dalam menutup kinerja semester pertama tahun 2026 sesuai dengan proyeksi awal.