Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) tengah menjajaki adopsi model pembinaan olahraga berbasis perguruan tinggi yang diterapkan di Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan sebagai upaya strategis untuk memperkuat ekosistem pembinaan atlet nasional agar lebih terstruktur dan berjenjang.

Ketua NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menjelaskan bahwa gagasan tersebut muncul setelah delegasi Indonesia berpartisipasi dalam International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat pada 18 hingga 29 Juni 2026. Menurut Okto, sistem olahraga Amerika, terutama melalui National Collegiate Athletic Association (NCAA), berhasil mengintegrasikan pendidikan dengan pengembangan bakat atlet secara komprehensif.

Di Amerika Serikat, kampus berperan vital bukan sekadar sebagai institusi pendidikan, melainkan sebagai pusat riset, sport science, serta sarana kompetisi yang mencetak atlet elite. Pola ini dianggap sangat relevan bagi Indonesia untuk memastikan kesinambungan jalur karier atlet mulai dari usia dini hingga level profesional, yang selama ini dinilai masih berjalan secara parsial.

Selain sistem pembinaan, NOC Indonesia juga menyoroti diversifikasi pendanaan olahraga di Negeri Paman Sam. Pengelolaan dana yang melibatkan sponsor, hak siar, lisensi, hingga dukungan filantropis menjadi model bisnis yang dipelajari untuk diterapkan di Tanah Air. Hasil kajian dari kunjungan ini nantinya akan disampaikan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, untuk disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan lokal.

Menanggapi kolaborasi ini, Juru Bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jamie Ravetz, menyambut positif pertukaran pengetahuan tersebut. Ia menegaskan bahwa program IVLP merupakan wujud komitmen Amerika Serikat dalam mempererat hubungan bilateral, sekaligus membantu Indonesia membangun fondasi olahraga yang lebih kokoh demi prestasi di panggung dunia.