Semarang – Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri), Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, melakukan pengawasan langsung terhadap tahapan Pemeriksaan Kesehatan (Rikkes) Spesialistik bagi calon taruna dan taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna Akpol, Semarang ini bertujuan untuk memastikan proses rekrutmen berjalan dengan standar profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas yang tinggi.

Dalam peninjauan tersebut, Komjen Pol. Dedi Prasetyo menekankan pentingnya adopsi teknologi kedokteran terkini guna mewujudkan sistem seleksi yang berbasis bukti ilmiah (evidence-based). Sebanyak 409 peserta mengikuti serangkaian pemeriksaan mendalam di 12 stasiun spesialistik, yang meliputi kondisi jantung, kepadatan tulang, hingga kapasitas paru, guna memastikan kesiapan fisik calon perwira sebelum memasuki masa pendidikan.

Salah satu sorotan utama dalam seleksi tahun ini adalah pemanfaatan alat Heart Rate Variability (HRV) untuk menganalisis respons jantung terhadap beban fisik, serta penggunaan Bone Mineral Density (BMD) berbasis digital. Implementasi teknologi ini diharapkan mampu mendeteksi potensi cedera muskuloskeletal sejak dini, sehingga Polri dapat meminimalisir risiko kesehatan yang mungkin timbul selama menjalani pendidikan kepolisian yang menuntut ketahanan fisik tinggi.

Karokespol Pusdokkes Polri, Brigjen Pol. Dr. dr. I Gusti Gede Maha Andikajaya, menjelaskan bahwa integrasi teknologi medis modern telah mengubah paradigma pemeriksaan kesehatan menjadi lebih komprehensif. Selain evaluasi fisik, Wakapolri juga menginstruksikan pemeriksaan ketat terhadap riwayat medis bawaan dan prosedur pemeriksaan kesehatan reproduksi bagi calon taruni, sebagai langkah preventif dalam menjaga standar kualitas calon perwira Polri.

Langkah modernisasi ini merupakan wujud nyata komitmen Polri dalam menerapkan prinsip Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH) serta semangat scientific policing. Dengan memanfaatkan data medis yang akurat dan objektif, Polri optimis dapat menjaring sumber daya manusia unggul yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan untuk menghadapi tantangan tugas di masa depan.