Raksasa teknologi global, Microsoft, secara resmi mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menyasar sekitar 4.800 karyawan di seluruh dunia. Langkah ini setara dengan 2,1 persen dari total tenaga kerja perusahaan dan menjadi bagian dari strategi restrukturisasi organisasi demi meningkatkan efisiensi operasional.
Dalam pesan internal yang disampaikan kepada para staf, pihak perusahaan menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan respons terhadap dinamika industri teknologi yang terus berubah cepat. Divisi penjualan komersial dan unit bisnis gim Xbox tercatat menjadi sektor yang paling terdampak oleh kebijakan pengurangan jumlah staf kali ini.
Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, menjelaskan bahwa penyesuaian ini dilakukan untuk menjawab pergeseran permintaan pelanggan dan kebutuhan adaptasi bisnis. Ia secara tegas menampik spekulasi bahwa PHK ini dipicu oleh otomatisasi atau penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menggantikan peran manusia di perusahaan.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Microsoft berkomitmen memberikan paket kompensasi berupa pesangon, kelanjutan tunjangan kesehatan, serta dukungan transisi karier bagi karyawan yang terdampak. Perusahaan juga mencatat bahwa program pensiun sukarela yang telah berjalan sejak awal tahun ini telah membantu memitigasi skala pengurangan karyawan yang lebih besar.
Langkah efisiensi ini diambil Microsoft di tengah tren perusahaan teknologi besar dunia yang sedang melakukan penyeimbangan modal, yakni dengan tetap fokus berinvestasi pada pengembangan AI sambil tetap berupaya menekan biaya operasional secara ketat. Berdasarkan laporan terakhir per Juni 2025, total tenaga kerja Microsoft tercatat mencapai sekitar 228.000 karyawan di berbagai negara.