Dominasi ponsel pintar yang selama ini menjadi perangkat utama dalam kehidupan sehari-hari diprediksi akan segera berakhir. CEO Meta, Mark Zuckerberg, menegaskan keyakinannya bahwa perangkat wearable, khususnya kacamata pintar, bakal menjadi tumpuan teknologi masa depan yang menggeser ketergantungan masyarakat terhadap layar ponsel konvensional.
Zuckerberg sendiri telah menjadi praktisi utama dari visi ini. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan pengalamannya menggunakan kacamata pintar Meta bahkan saat sedang berkendara dengan jet ski. Berkat teknologi mikrofon canggih yang tertanam pada bantalan hidung kacamata, ia mampu melakukan panggilan bisnis dengan kejernihan suara yang luar biasa, meski di tengah kondisi angin kencang.
Inovasi ini memungkinkan pengguna untuk tetap terhubung secara profesional tanpa harus terdistraksi oleh genggaman ponsel. Menurut Zuckerberg, kacamata pintar menawarkan keunggulan unik: memungkinkan seseorang tetap hadir secara emosional dan fisik di lingkungan sekitarnya, sembari tetap mengakses asisten kecerdasan buatan (AI) yang mampu melihat, mendengar, dan berinteraksi secara real-time.
Strategi Meta untuk merealisasikan ambisi ini melibatkan kolaborasi dengan pemain industri kacamata kenamaan seperti EssilorLuxottica, induk perusahaan Ray-Ban dan Oakley. Perangkat seperti Ray-Ban Meta kini dilengkapi dengan kemampuan AI yang semakin mumpuni, termasuk integrasi Neural Band yang memungkinkan kontrol perangkat melalui gerakan jari yang halus.
Meski divisi Reality Labs milik Meta mencatat kerugian operasional yang cukup masif demi riset dan pengembangan teknologi ini, Zuckerberg tetap optimistis. Ia mengibaratkan transisi kacamata pintar seperti masa ketika dunia beralih dari ponsel konvensional ke smartphone. Baginya, kacamata adalah perangkat yang paling natural bagi miliaran orang di dunia yang memang sudah terbiasa menggunakan alat bantu penglihatan setiap hari.
Visi jangka panjang Meta tidak berhenti di situ. Perusahaan tengah menyiapkan lini produk baru yang dijadwalkan meluncur pada 2028 sebagai bagian dari upaya membangun "personal super intelligence". Zuckerberg percaya bahwa masa depan teknologi harus berfokus pada AI yang personal, bukan sekadar mengandalkan satu model AI besar yang digunakan secara seragam oleh semua orang.