Dinamika dakwah di era modern kerap dihadapkan pada tantangan dalam menjaga keseimbangan antara penyampaian substansi keagamaan dan pengemasan materi agar tetap relevan bagi masyarakat. Namun, fenomena pergeseran fungsi majelis ilmu yang semakin didominasi hiburan kini menjadi perhatian serius para penceramah dan praktisi dakwah.

Dalam agenda Kajian Ahad Pagi di Masjid Al Huda, Pisangan Timur, Jakarta Timur, Ustaz Abu Umar Hikmatyar mengingatkan kembali hakikat utama dari majelis ilmu dan zikir. Menurutnya, aktivitas menuntut ilmu agama—seperti mengkaji Al-Qur'an, hadis, dan hukum syariat—merupakan salah satu bentuk zikir paling utama untuk menumbuhkan ketenangan spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ustaz Abu Umar menjelaskan bahwa penyampaian materi dakwah memang perlu beradaptasi agar mudah dicerna serta tidak membosankan. Penggunaan humor segar maupun pendekatan edutainment dinilai sah-sah saja sebagai sarana mencairkan suasana, selama hanya ditempatkan sebagai metode pendukung dan tidak mendominasi isi kajian.

Sorotan kritis muncul ketika porsi hiburan justru mengalahkan materi utama keagamaan. Keinginan mengejar kepopuleran, jumlah tayangan, dan daya tarik di media sosial dikhawatirkan menggeser fokus utama penceramah dari menyampaikan pemahaman agama menjadi sekadar memburu respons gelak tawa dari jamaah.

Oleh karena itu, para dai dan jamaah diharapkan dapat menjaga batas yang tegas antara dakwah yang komunikatif dan pertunjukan hiburan murni. Kemasan dakwah yang menarik idealnya tetap melayani substansi ajaran agama, sehingga majelis ilmu tetap menjadi tempat yang membangun kesadaran spiritual dan pemikiran yang mendalam.