KUDUS — Turnamen Hydroplus Soccer League All-Stars yang berlangsung di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, pada 5 hingga 12 Juli 2026, menjadi panggung pembuktian nyata bagi perkembangan sepak bola putri usia muda di Indonesia. Kompetisi ini merefleksikan hasil konsistensi pembinaan akar rumput selama tiga tahun terakhir yang telah mengubah peta mimpi para pesepak bola putri cilik tanah air.
Salah satu talenta yang mencuri perhatian adalah Albianca Raula (12), penggawa Cipta Cendikia FA. Pemain yang akrab disapa Bianca ini menjalani jadwal super padat setelah sebelumnya membawa tim Jakarta meraih posisi runner-up di MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars. Ketajaman Bianca di lapangan hijau, yang sempat memborong 41 gol dalam turnamen sebelumnya, bahkan membuatnya mendapat panggilan pemusatan latihan tim nasional putri Indonesia U-16 meski usianya belum genap untuk kategori tersebut.
Transformasi serupa dialami oleh Alya Putri Ariyanto (13), penjaga gawang Scorpion FC yang awalnya merupakan atlet bola voli. Lewat ekosistem kompetisi yang teratur, Alya kini berani menggantungkan cita-cita sebagai pesepak bola profesional. Hal senada diungkapkan oleh Bilqis Fatimah Az Zahra dari Goal Aksis, yang merasakan peningkatan signifikan dalam akurasi umpan dan penyelesaian akhir berkat jam terbang pertandingan yang tinggi.
Sejak diinisiasi oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation pada 2023, program pembinaan ini terus memperluas jangkauannya. Dimulai dari Kudus, kompetisi MilkLife Soccer Challenge kini telah merambah ke 12 kota di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan. Para alumni turnamen sekolah dasar tersebut kemudian naik kelas ke Hydroplus Soccer League, sebuah liga berformat kompetisi jangka panjang yang dirancang untuk mengasah mental bertanding anak-anak di atas usia 12 tahun.
Kepala Pelatih Hydroplus Soccer League, Jacksen F. Tiago, mengaku sangat terkesan dengan bakat-bakat alam yang ia pantau setahun terakhir. Mantan arsitek Persipura Jayapura tersebut menegaskan bahwa Indonesia memiliki limpahan potensi pesepak bola putri yang luar biasa, sehingga konsistensi pembinaan menjadi kunci utama untuk membawa mereka ke level tertinggi.
Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menyatakan bahwa fase pembibitan awal ini berjalan melampaui ekspektasi. Langkah berikutnya adalah memperluas wilayah pencarian bakat ke luar Pulau Jawa, termasuk Sulawesi dan Papua. Yoppy optimis, dengan wadah kompetisi yang terstruktur dan merata, jalan tim nasional putri Indonesia menuju panggung Piala Dunia Wanita bukan lagi sekadar impian yang mustahil diraih.