Tren berolahraga dalam kondisi perut kosong, atau yang dikenal sebagai fasted workout, kian digandrungi masyarakat karena dipercaya ampuh mempercepat pembakaran lemak dan penurunan berat badan. Meski demikian, para pakar nutrisi mengingatkan bahwa klaim tersebut belum didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.

Secara biologis, beraktivitas fisik sebelum mengonsumsi makanan memang memicu tubuh untuk menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi utama karena rendahnya kadar insulin. Namun, proses ini tidak serta-merta menjamin penurunan berat badan yang signifikan dalam jangka panjang. Keberhasilan manajemen berat badan tetap bertumpu pada defisit kalori serta konsistensi gaya hidup sehat secara menyeluruh.

Ahli gizi Natalie Rizzo menjelaskan bahwa riset yang membandingkan efektivitas olahraga sebelum dan sesudah makan masih sangat terbatas. Menurutnya, selama total asupan kalori dan intensitas aktivitas fisik harian setara, hasil akhir penurunan berat badan tidak akan menunjukkan perbedaan yang berarti.

Di sisi lain, mengonsumsi makanan ringan sebelum berolahraga justru memberikan energi tambahan yang dibutuhkan tubuh untuk menjalani latihan berintensitas tinggi. Hal ini tidak hanya mengoptimalkan pembakaran kalori, tetapi juga mendukung proses pembentukan dan pemulihan massa otot secara lebih efektif.

Para spesialis juga mengingatkan bahwa metode fasted workout tidak cocok diterapkan oleh semua orang. Tanpa persiapan nutrisi yang tepat, pelaku olahraga berisiko mengalami lemas, pusing, hingga penurunan performa yang drastis. Oleh karena itu, penyesuaian jenis latihan dan kondisi fisik individu mutlak diperlukan sebelum menerapkan metode ini.