Penggunaan gelas tembaga kini tengah menjadi tren di kalangan masyarakat yang mendambakan gaya hidup sehat. Praktik yang berakar dari metode pengobatan tradisional India, Ayurveda, ini diyakini mampu memurnikan air serta memberikan berbagai dampak positif bagi tubuh. Namun, benarkah kebiasaan ini secara ilmiah mendatangkan manfaat bagi kesehatan, atau sekadar tren semata?

Secara ilmiah, tembaga memang terbukti memiliki sifat antimikroba yang mampu membunuh bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella. Kendati demikian, klaim populer di media sosial yang menyebutkan bahwa wadah ini dapat meningkatkan imunitas tubuh, memperbaiki sistem pencernaan, hingga mengoptimalkan penyerapan zat besi rupanya belum didukung oleh bukti medis yang kuat.

Sandra Zhang, seorang ahli diet dan nutrisi dari Frances Stern Nutrition Center di Tufts Medical Center, menjelaskan bahwa manfaat kesehatan dari minum air melalui gelas tembaga sangatlah minim bagi mayoritas orang. Tubuh manusia memang membutuhkan tembaga untuk memproduksi energi dan membentuk jaringan, tetapi kebutuhan harian tersebut umumnya sudah terpenuhi melalui konsumsi makanan sehari-hari seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan makanan laut.

Senada dengan Zhang, ahli farmakologi dan toksikologi dari Michigan State University, Jamie Alan, menyebutkan bahwa kadar tembaga yang larut ke dalam air dari gelas sangatlah kecil. Akibatnya, efek antioksidan yang diharapkan hampir tidak terasa bagi tubuh. Terlebih lagi, kasus kekurangan zat tembaga pada manusia tergolong sangat langka.

Di balik potensi manfaatnya sebagai pemurni air, penggunaan gelas tembaga yang tidak tepat justru menyimpan risiko kesehatan. Air yang didiamkan terlalu lama dalam wadah tembaga, atau penggunaan gelas tersebut untuk minuman panas dan asam, dapat memicu pelarutan zat tembaga secara berlebihan. Jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang, penumpukan tembaga ini dapat memicu keracunan yang merusak organ hati, serta menimbulkan gejala pencernaan seperti mual, muntah, dan diare.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, para ahli menyarankan beberapa langkah aman. Hindari menyimpan minuman terlalu lama di dalam gelas tembaga dan jangan gunakan wadah ini untuk minuman asam seperti jus jeruk atau kombucha, terkecuali jika bagian dalam gelas telah dilapisi bahan pelindung seperti baja tahan karat atau nikel. Selain itu, pastikan membeli produk berlabel aman untuk pangan (food-grade) dan cuci gelas secara manual menggunakan tangan guna menjaga lapisan pelindungnya tetap utuh.

Pada akhirnya, penggunaan gelas tembaga lebih tepat dipandang sebagai preferensi gaya hidup atau bagian dari tradisi budaya, alih-alih sebagai terapi kesehatan medis yang mutlak. Selama digunakan secara bijak dan tidak berlebihan, kebiasaan ini relatif aman bagi sebagian besar orang, kecuali bagi penderita kondisi medis khusus seperti penyakit Wilson.