Transformasi digital yang kian masif memaksa korporasi modern untuk merombak total fungsi manajemen strategis mereka. Dalam diskusi daring MAW Talkshow #73 bertajuk 'Public Relations: From Reputation to Business Impact' yang berlangsung pada Kamis (25/6/2026), para praktisi komunikasi menegaskan bahwa peran hubungan masyarakat (humas) kini telah bergeser menjadi arsitek penentu arah kebijakan bisnis.
Head of Corporate Communication PT Garuda Indonesia, Dicky Irchamsyah, mengungkapkan bahwa keputusan bisnis saat ini sangat bergantung pada sentimen publik di ranah siber. Ia mencontohkan krusialnya peran komunikasi saat Garuda Indonesia menghadapi masa kritis Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada tahun 2022 lalu. Menurutnya, negosiasi dengan ratusan kreditur menuntut manajemen reputasi yang objektif agar tidak berdampak buruk secara langsung pada performa finansial perusahaan.
Sementara itu, dari sektor industri pertambangan, Deputy Head of Corporate Communications PT Merdeka Copper Gold, Indriani Siswati, menyoroti pentingnya komunikasi publik yang transparan untuk menekan risiko stigma negatif. Pengelolaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang komunikatif dinilai sangat krusial demi mengamankan izin sosial untuk beroperasi (Social License to Operate). Langkah ini diyakini mampu memberikan rasa aman dan kepastian bagi keberlangsungan investasi jangka panjang perusahaan.
Pada kesempatan yang sama, Head Corporate Communications PT Taspen, Rizky Bachrudin, menjelaskan bahwa komunikasi yang presisi memegang peranan penting dalam meminimalisasi salah tafsir publik terhadap produk asuransi milik negara. Kemampuan humas dalam mengelola krisis dengan cepat dan tepat dinilai dapat mengubah potensi ancaman menjadi penguatan reputasi yang berkelanjutan.
Meski menghadapi tantangan industri yang berbeda-beda, para panelis sepakat bahwa pemanfaatan data analitik tidak akan optimal tanpa adanya interpretasi yang tajam dari seorang praktisi humas. Sinergi antara penguasaan data dan kepekaan komunikasi menjadi kunci utama dalam melakukan mitigasi krisis secara senyap dan efektif demi keuntungan korporasi.