Pertumbuhan fisik dan perkembangan motorik anak merupakan indikator utama dari kondisi kesehatan mereka secara keseluruhan. Kendati demikian, tidak sedikit orang tua yang langsung mengaitkan masalah berat badan anak yang sulit naik atau keterlambatan kemampuan gerak hanya dengan persoalan kurang gizi atau nutrisi. Padahal, kondisi tersebut bisa jadi merupakan indikasi awal adanya masalah medis yang lebih serius, seperti penyakit jantung bawaan (PJB).
Dokter Spesialis Anak dari Siloam Heart Hospital, dr. Ambarsari, MSc., Sp.A, menekankan pentingnya bagi orang tua untuk memantau tumbuh kembang anak secara berkala. Ia menjelaskan bahwa tumbuh kembang terbagi menjadi dua ranah utama. Pertumbuhan berkaitan erat dengan pengukuran fisik seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, sedangkan perkembangan berfokus pada kemampuan fungsi tubuh seperti motorik, bahasa, dan interaksi sosial.
Dr. Ambarsari menguraikan sejumlah tanda bahaya yang patut diwaspadai orang tua. Hambatan pertumbuhan yang paling sering ditemui di lapangan adalah bobot tubuh anak yang stagnan serta ukuran lingkar kepala yang tidak proporsional. Sementara di ranah perkembangan, keterlambatan bicara (speech delay) dan kemampuan motorik yang lamban menjadi kasus yang paling mendominasi. Gangguan ini tidak melulu disebabkan oleh kurangnya stimulasi, tetapi juga dapat dipicu oleh kelainan genetik bawaan.
Salah satu kondisi medis yang kerap terlambat disadari adalah PJB, yaitu kelainan struktur maupun fungsi jantung yang dialami bayi sejak dalam kandungan. Bayi yang mengidap PJB biasanya menunjukkan gejala fisik yang khas, seperti napas yang memburu atau sesak, kulit yang tampak membiru, hingga tingkat saturasi oksigen yang rendah. Kondisi ini membuat jantung bekerja ekstra keras, sehingga energi yang seharusnya dialokasikan untuk pertumbuhan fisik anak habis terkuras demi menjaga kinerja jantung.
Guna meminimalkan risiko jangka panjang, deteksi dini memegang peranan yang sangat krusial. Kelainan jantung pada janin sebenarnya sudah dapat diidentifikasi sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) khusus pada usia kandungan 18 hingga 20 minggu. Setelah lahir, skrining saturasi oksigen menggunakan alat pulse oximetry pada usia 24 jam pertama, serta pemeriksaan rutin menggunakan stetoskop oleh dokter anak, menjadi langkah preventif berikutnya.
Selain deteksi medis, orang tua juga diimbau untuk konsisten menerapkan pola hidup sehat pada anak. Hal ini mencakup pemberian nutrisi seimbang, pembatasan konsumsi gula dan garam, pengurangan durasi menatap layar gawai, pemenuhan imunisasi lengkap, serta proteksi ketat dari paparan asap rokok. Jika ditemukan indikasi gangguan, penanganan medis komprehensif seperti layanan kardiologi anak dan tindakan kateterisasi jantung kini sudah tersedia untuk mengoptimalkan pemulihan pasien.