Kasus dugaan korupsi pasokan batu bara yang menyeret Febrie Adriansyah kini mulai menyingkap tabir baru terkait jaringan bisnisnya. Nama pengusaha papan atas asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, ikut terseret dalam pusaran ini menyusul adanya indikasi hubungan bisnis melalui sejumlah entitas perusahaan dan emiten saham di bursa efek.
Kasus yang menjerat Febrie bermula dari dugaan manipulasi pengadaan batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang merugikan negara hingga Rp5 triliun dan sempat memicu pemadaman listrik massal di Jawa-Sumatra. Dalam operasi penggeledahan di berbagai lokasi, Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri berhasil menyita aset bernilai fantastis, termasuk uang tunai lintas mata uang dan puluhan kilogram emas batangan dengan estimasi total mencapai ratusan miliar rupiah.
Investigasi mendalam mengungkap adanya jembatan penghubung antara Febrie dan Haji Isam melalui dua perusahaan utama, yakni PT Surya Banua Energi yang bergerak di sektor tambang batu bara di Balangan, serta PT Indosentosa Agro Makmur di sektor agrobisnis. Melalui kepemilikan saham dan jajaran manajemen di entitas-entitas tersebut, nama orang dekat Febrie, Don Ritto, kerap beririsan dengan jaringan bisnis sang pengusaha batubara.
Dampak dari mencuatnya kasus hukum ini turut berimbas pada kinerja pasar modal. Tiga saham yang terafiliasi dengan Haji Isam, yakni TEBE, JARR, dan PGUN, terpantau bergerak stagnan atau sideways sejak Juli 2026. Padahal, beberapa emiten tersebut sempat membukukan tren positif berkat sentimen kebijakan biodiesel B50 pada akhir Juni sebelumnya.