Stigma negatif terhadap penderita hepatitis B dan C di tengah masyarakat kerap kali dipicu oleh salah kaprah mengenai cara penularannya. Banyak orang keliru mempercayai bahwa berpelukan atau makan bersama dengan penderita dapat menularkan penyakit tersebut. Meluruskan anggapan keliru ini, dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastro-entero-hepatologi sekaligus akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Fahmi Indrarti, menegaskan bahwa hal tersebut sepenuhnya merupakan mitos.

Menurut dr. Fahmi, penderita hepatitis B dan C tidak perlu diisolasi atau dijauhi dari aktivitas sehari-hari. Penyakit ini tidak hanya menyerang mereka dengan gaya hidup yang tidak sehat, melainkan bisa menular kepada siapa saja. Penularan virus ini utamanya terjadi dari ibu ke bayi saat proses melahirkan, atau melalui kontak langsung dengan darah serta penggunaan peralatan medis yang tidak steril, bukan melalui interaksi sosial biasa.

Secara medis, hepatitis merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus, meski faktor lain seperti konsumsi alkohol, obesitas, dan efek samping obat-obatan juga dapat memicunya. Virus hepatitis sendiri dikelompokkan dari jenis A hingga E dengan metode penularan yang berbeda. Hepatitis A dan E menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, sedangkan hepatitis B dan C menyebar lewat cairan tubuh. Adapun hepatitis D hanya menginfeksi individu yang sudah memiliki riwayat hepatitis B, yang dapat memperparah kondisi klinis pasien.

Di Indonesia, hepatitis B dan C menjadi perhatian serius karena berisiko tinggi berkembang menjadi infeksi kronis hingga memicu kanker hati. Angka kasus di tanah air tergolong tinggi, dengan estimasi penderita hepatitis B mencapai 6,5 hingga 6,7 juta jiwa, serta penderita hepatitis C yang diperkirakan berada di angka 2,5 juta jiwa.