Di tengah fluktuasi pasar chip global yang belakangan ini dipenuhi kekhawatiran investor, Samsung Electronics diperkirakan akan menjadi anomali positif. Raksasa semikonduktor asal Korea Selatan ini diproyeksikan bakal mencatatkan laba operasional awal sebesar 84,3 triliun won atau setara dengan Rp989 triliun untuk kuartal kedua tahun ini.
Angka fantastis tersebut menandai lonjakan laba hingga 18 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Analis yang dihimpun oleh Bloomberg mencatat bahwa pendapatan perusahaan kemungkinan besar akan melonjak sebesar 127 persen, mencapai rekor baru sebesar 169 triliun won. Capaian ini sekaligus melampaui total laba perusahaan sepanjang tahun 2023.
Hasil kinerja ini sangat dinantikan mengingat sektor semikonduktor global tengah mengalami masa yang menantang. Setelah mencatatkan kuartal terbaik sepanjang sejarah, pasar saham teknologi dunia sempat terguncang pada Juni akibat kekhawatiran akan kelebihan kapasitas dan persaingan ketat dalam investasi kecerdasan buatan (AI). Tekanan ekspektasi pasar yang tinggi menuntut Samsung untuk membuktikan keberlanjutan tren ini.
Menurut CEO Roundhill Financial, Dave Mazza, laporan keuangan Samsung kali ini menjadi krusial di tengah perdebatan mengenai permintaan memori global. Rilis laba yang solid diharapkan dapat menepis keraguan investor terhadap pasokan chip di tengah rencana ekspansi perusahaan teknologi besar seperti Meta dan Apple.
Pendorong utama di balik performa impresif ini adalah tingginya kebutuhan chip memori berkinerja tinggi yang menjadi fondasi utama bagi model AI berskala besar, seperti ChatGPT dan Claude. Kelangkaan pasokan global telah memicu kenaikan harga secara signifikan, yang pada gilirannya mendongkrak margin keuntungan bagi produsen chip terkemuka seperti Samsung dan kompetitor utamanya, SK Hynix.