Vietnam diproyeksikan resmi bergabung dalam jajaran negara berpendapatan menengah ke atas pada akhir tahun 2025. Berdasarkan laporan terkini, Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut diperkirakan menembus angka 514 miliar dolar AS dengan pendapatan per kapita mencapai 5.026 dolar AS, melampaui ambang batas klasifikasi Bank Dunia sebesar 4.636 dolar AS. Meski demikian, posisi ini baru menandai babak awal bagi perjalanan ekonomi Vietnam yang masih rentan terhadap tantangan pembangunan jangka panjang.
Untuk melompat lebih jauh dan mencapai target PDB per kapita sebesar 8.500 dolar AS pada tahun 2030, Vietnam dituntut mencatatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata minimal 10 persen per tahun selama periode 2026-2030. Tantangan terbesar yang membayangi adalah risiko terjebak dalam "jebakan pendapatan menengah" (middle-income trap) serta ketergantungan yang tinggi pada industri perakitan bernilai tambah rendah.
Profesor Madya Dr. Vu Van Phuc selaku pemimpin proyek kajian menekankan perlunya perubahan mendasar dalam model pembangunan nasional. Vietnam harus bertransformasi dari pertumbuhan ekstensif berbasis modal dan tenaga kerja murah menjadi pertumbuhan intensif yang digerakkan oleh ilmu pengetahuan, teknologi, serta transformasi digital. Peningkatan produktivitas faktor total (TFP) dan kemandirian industri domestik menjadi kunci utama dalam merumuskan otonomi ekonomi strategis.
Mantan Wakil Direktur Pusat Informasi Industri dan Perdagangan, Dr. Le Quoc Phuong, menyoroti tingginya keterbukaan perdagangan Vietnam yang rentan terhadap guncangan eksternal. Menurutnya, negara tersebut perlu menaikkan tingkat lokalisasi industri utama hingga 40-45 persen. Kebijakan ini penting untuk membangun integrasi substansial antara perusahaan asing penerima investasi (FDI) dengan sektor industri lokal guna menghentikan dominasi pola manufaktur hilir yang minim nilai tambah.
Di sisi lain, adopsi teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI), ekosistem semikonduktor, teknologi keuangan (fintech), dan regulasi ruang uji coba (sandbox) untuk aset digital harus dipercepat. Dr. Le Minh Nghia dari Asosiasi Konsultan Keuangan Vietnam menyebutkan bahwa Vietnam saat ini berada di masa keemasan pengembangan AI berkat melimpahnya talenta muda dan dukungan regulasi pemerintah yang progresif. Target kontribusi ekonomi digital pun dipatok mencapai 30 persen dari total PDB pada tahun 2030.
Guna mengamankan momentum ini, para ahli merekomendasikan langkah konkret termasuk menyelesaikan hambatan hukum bagi lebih dari 3.000 proyek pembangunan yang saat ini mangkrak. Langkah reformasi agraria dan pemanfaatan kembali aset publik ini diharapkan mampu mengaktivasi potensi modal senilai 6 triliun VND yang secara langsung akan menyokong akselerasi pertumbuhan ekonomi Vietnam menuju status negara maju berpendapatan tinggi.