Kebuntuan ilmiah selama lebih dari sepuluh tahun akhirnya terpecahkan berkat kolaborasi antara kecerdasan buatan (AI) generatif dan para fisikawan terkemuka. Dua peneliti, termasuk peraih Nobel Fisika 2021 Giorgio Parisi, berhasil membuktikan sebuah persamaan matematika rumit yang selama ini membingungkan komunitas sains global.
Temuan luar biasa ini dipublikasikan dalam Journal of Statistical Mechanics: Theory and Experiment pada awal Juli lalu. Keberhasilan ini bermula saat para peneliti dari Sapienza University of Rome memutuskan untuk meninjau kembali persoalan lama di bidang spesialisasi mereka yang sebelumnya dinilai telah menemui jalan buntu.
Fokus penelitian mereka terletak pada konsep fisika yang dikenal sebagai jamming. Fenomena ini merujuk pada transisi di mana sistem fluida yang mengalir bebas—seperti butiran pasir—berubah menjadi padat, kaku, dan tidak teratur karena partikel-partikel di dalamnya saling mengunci. Ilustrasi paling mudah adalah tumpukan bola di atas meja biliar; ketika ruang semakin padat, bola-bola tersebut akhirnya terkunci rapat tanpa celah untuk bergerak.
Pada tahun 2014, Giorgio Parisi dan rekannya, Francesco Zamponi, telah memformulasikan deskripsi matematis dari fenomena ini. Mereka menemukan dua parameter kritis, yaitu a dan b, yang secara konsisten menghasilkan jumlah angka 1 ketika dijumlahkan (a+b=1). Parameter tersebut mengukur distribusi gaya kontak dan celah antarbola saat sistem mencapai titik beku ekstrem. Kendati demikian, pembuktian matematis secara teoritis mengapa kedua variabel tersebut selalu berjumlah 1 tetap menjadi misteri besar.
Setelah satu dekade tanpa progres berarti, Parisi mengusulkan untuk memanfaatkan AI generatif guna mencari sudut pandang baru. Mereka menggunakan Claude, model AI besutan Anthropic. Di luar dugaan, Claude tidak hanya berhasil mereplikasi hasil perhitungan numerik dari penelitian terdahulu, tetapi juga membantu para ilmuwan tersebut menemukan pembuktian logis dari persamaan misterius yang selama ini mengganjal pikiran mereka.