Sektor perhotelan di Kota Balikpapan tengah menghadapi tantangan berat sepanjang awal tahun 2026. Tingkat keterisian kamar (okupansi) dilaporkan merosot tajam akibat minimnya agenda kegiatan dari instansi pemerintahan serta melambatnya aktivitas di sektor pertambangan yang selama ini menjadi penyokong utama bisnis akomodasi di kota minyak tersebut.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Balikpapan, Soegianto, mengungkapkan bahwa masa sulit ini berlangsung signifikan sejak Januari hingga Mei 2026. Selama periode lima bulan pertama tersebut, rata-rata okupansi hotel di Balikpapan hanya mampu bertahan di angka sekitar 30 persen saja.
Menurut Soegianto, lesunya bisnis ini tidak lepas dari masa transisi penetapan anggaran pemerintah daerah maupun pusat, yang berimbas pada minimnya penyelenggaraan acara. Pasar MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dari sektor pemerintahan masih menjadi tulang punggung utama perhotelan lokal, sementara kontribusi dari sektor korporasi swasta dinilai belum mampu menambal kekosongan tersebut.
Kondisi ini kian diperparah oleh lesunya aktivitas di sektor pertambangan. Penurunan jumlah pekerja tambang dan pengurangan mobilitas dari perusahaan pemasok (supplier) yang terafiliasi dengan industri ekstraktif tersebut secara langsung memangkas permintaan kamar hotel secara signifikan.
Menyiasati tekanan finansial ini, sejumlah manajemen hotel terpaksa mengambil langkah efisiensi demi menjaga keberlangsungan operasional. Kebijakan pemangkasan hari kerja karyawan pun mulai diterapkan, di mana pekerja yang biasanya masuk penuh kini hanya dijadwalkan bekerja selama 15 hari dalam sebulan, yang otomatis berdampak pada penurunan pendapatan mereka secara drastis.