Meskipun teknologi medis terus berkembang, hepatitis virus tetap menjadi salah satu ancaman kesehatan global paling mematikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti bahwa kendala terbesar dalam penanggulangan penyakit ini adalah minimnya kesadaran masyarakat, di mana jutaan orang tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi sehingga terlambat mendapatkan penanganan medis.
Dalam laporan terbaru mengenai Strategi Sektor Kesehatan Global (GHSS) 2022–2030, WHO memproyeksikan angka kematian akibat hepatitis virus mencapai 1,3 juta jiwa sepanjang tahun 2024. Dokumen evaluasi penanganan HIV, hepatitis, dan infeksi menular seksual (IMS) ini dipublikasikan sebagai refleksi menjelang peringatan Hari Hepatitis Sedunia yang jatuh setiap tanggal 28 Juli.
Meski memperlihatkan kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, WHO menekankan bahwa keberhasilan penanggulangan hepatitis belum terdistribusi secara merata di tingkat global. Penurunan penularan baru memang terjadi, namun jurang akses layanan kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi banyak negara.
Berdasarkan data WHO, angka kasus baru hepatitis B secara global berhasil ditekan hingga 32 persen sejak 2015, sementara tingkat kematian akibat hepatitis C mengalami penurunan sekitar 12 persen. Kendati demikian, tren penurunan infeksi baru ini belum mampu menekan angka fatalitas secara signifikan karena penderita sering kali baru menyadari kondisinya saat penyakit sudah masuk fase lanjut.
WHO menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar ketersediaan obat-obatan, melainkan kapasitas sistem kesehatan publik dalam melacak kasus secara dini. Intervensi medis dan terapi yang cepat dinilai sangat efektif untuk mencegah risiko komplikasi kronis serta menekan angka kematian pasien.