PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan lonjakan laba bersih yang fantastis sebesar 1.330,6 persen pada kuartal pertama tahun 2026, mencapai angka Rp1,5 triliun. Namun, performa keuangan yang impresif tersebut belum cukup untuk meyakinkan para analis pasar modal agar merekomendasikan pembelian saham emiten rokok raksasa ini.

MNC Sekuritas, melalui riset terbarunya, memutuskan untuk mempertahankan rekomendasi 'Hold' bagi saham GGRM dengan target harga di level Rp18.000 per lembar. Analis MNC Sekuritas, Catherine Florencia M, mengungkapkan bahwa kenaikan laba perusahaan bukan disebabkan oleh pertumbuhan volume penjualan, melainkan keberhasilan strategi efisiensi biaya yang cukup agresif.

Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan Gudang Garam justru mengalami kontraksi sebesar 12,8 persen secara tahunan menjadi Rp20,1 triliun. Lonjakan profitabilitas lebih didorong oleh pemangkasan beban operasional yang mencapai 35 persen, serta pengurangan jumlah tenaga kerja secara signifikan dari 28.033 orang menjadi 21.454 orang sepanjang tahun terakhir.

Tantangan utama yang masih membayangi perusahaan adalah fenomena downtrading, di mana konsumen beralih ke rokok dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, kebijakan pemerintah yang membekukan tarif cukai tembakau dinilai belum cukup kuat untuk memicu pemulihan volume penjualan di tengah pelemahan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, diversifikasi bisnis non-tembakau yang dijalankan perusahaan, termasuk proyek infrastruktur strategis seperti Bandara Dhoho Kediri dan Jalan Tol Kediri–Tulungagung, saat ini masih membebani neraca keuangan. Proyek-proyek tersebut diprediksi baru akan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perusahaan dalam jangka waktu yang panjang.

Dengan mempertimbangkan berbagai risiko tersebut, investor diharapkan untuk tetap berhati-hati. Keputusan investasi pada saham GGRM saat ini dinilai masih sangat bergantung pada stabilitas bisnis inti rokok, yang hingga kini masih menghadapi tekanan kompetisi dan regulasi pasar yang cukup ketat.