Krisis layanan kesehatan hewan di Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, hingga kini masih menjadi persoalan serius bagi perkembangan peternakan rakyat. Minimnya pasokan obat-obatan, keterbatasan alat medis, serta kelangkaan tenaga paramedik veteriner membuat penanganan terhadap hewan ternak masyarakat yang sakit belum dapat berjalan maksimal.
Paramedik Veteriner Deiyai, John Pigai, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan dan permintaan bantuan dari para peternak lokal hampir setiap hari. Namun, keterbatasan sarana dan prasarana penunjang medis memaksa petugas di lapangan tidak mampu menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat secara merata.
John menjelaskan, Deiyai sebenarnya memiliki empat orang tenaga paramedik veteriner. Meski demikian, belum adanya kejelasan mengenai alokasi anggaran operasional membuat rekan-rekannya tidak dapat bertugas secara optimal di lapangan. Alhasil, ia terpaksa merespons panggilan warga dan menjalankan pelayanan medis ternak seorang diri.
Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, John mendesak Pemerintah Kabupaten Deiyai untuk segera mengambil langkah konkret. Ia mengusulkan sejumlah prioritas pembangunan, di antaranya pendirian gedung Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), pengadaan alat kesehatan dan stok obat-obatan, penambahan penyuluh peternakan, serta pemberian bantuan pendidikan S1 Kedokteran Hewan bagi para petugas lapangan yang telah lama mengabdi.
Ia menegaskan bahwa sektor peternakan yang maju harus ditopang oleh jaminan kesehatan hewan yang tangguh. Tanpa adanya intervensi dan dukungan fasilitas mendasar dari pemerintah daerah, perlindungan terhadap aset ternak warga akan terus terancam.