PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), emiten yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, kini tengah bergelut dengan tantangan finansial yang kian kompleks. Perusahaan eksportir udang ini mengakui bahwa keterbatasan modal kerja telah memaksa mereka memangkas operasional secara drastis, di mana hanya satu fasilitas produksi di Situbondo yang saat ini masih berjalan.
Dalam keterangan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), pihak manajemen menyatakan bahwa tekanan likuiditas memaksa perusahaan menerapkan pola pembayaran upah harian bagi para pekerja. Bahkan, untuk menjaga keberlangsungan ekspor, perusahaan terpaksa menggunakan skema pembelian produk dari pihak ketiga yang pembayarannya baru dilakukan setelah hasil ekspor cair, sebagai siasat di tengah minimnya arus kas.
Perseroan saat ini sangat membutuhkan suntikan dana segar sekitar US$15 juta atau setara dengan Rp245 miliar untuk memulihkan kapasitas produksi. Di sisi lain, status suspensi saham PMMP di lantai bursa masih berlanjut akibat ketidakmampuan perusahaan memenuhi kewajiban administratif, termasuk keterlambatan penyampaian laporan keuangan tahunan yang baru ditargetkan rampung pada Agustus 2026.
Beban utang menjadi ganjalan utama dalam upaya pemulihan perusahaan. Hingga akhir Mei 2026, saldo pinjaman bank tercatat mencapai angka signifikan yakni US$160,13 juta dan Rp6,33 miliar. Meskipun restrukturisasi dengan PT Bank Permata Tbk telah disepakati, PMMP masih harus menempuh proses negosiasi yang alot dengan sejumlah kreditur lainnya, termasuk beberapa bank nasional dan lembaga pembiayaan ekspor.
Dampak dari badai finansial ini pun merambah ke sektor ketenagakerjaan. Sejak tahun 2024, perusahaan terpaksa melakukan pengurangan tenaga kerja secara signifikan, mencakup puluhan karyawan tetap dan pekerja harian, sementara sejumlah lainnya memilih untuk mengundurkan diri. Sebagai langkah penyelamatan, manajemen kini menyiapkan strategi penambahan modal melalui skema rights issue dan konversi utang menjadi saham.