Krisis bahan bakar yang berkepanjangan di Rusia kini telah memicu perubahan drastis pada pola konsumsi masyarakatnya. Gangguan pasokan bensin dan solar yang diakibatkan oleh serangan terhadap infrastruktur energi nasional memaksa warga untuk mencari alternatif transportasi yang lebih andal, dengan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) buatan China menjadi pilihan utama di pasar otomotif Rusia saat ini.

Yevgeniy Zabelin, pendiri dealer EN Cars, mengungkapkan bahwa fenomena ini terlihat dari lonjakan permintaan yang signifikan di gerai miliknya. Jika sebelumnya penjualan hanya berkisar pada dua hingga tiga unit setiap bulan, kini angka tersebut meningkat menjadi dua hingga tiga unit per hari. Lonjakan minat ini tidak hanya menyasar model ekonomi, tetapi juga mencakup segmen kendaraan listrik premium.

Situasi pelik di sektor energi ini dipicu oleh serangan berulang terhadap kilang-kilang minyak Rusia dalam beberapa pekan terakhir, yang berujung pada antrean panjang di SPBU dan melonjaknya harga bahan bakar hingga ke level tertinggi di Eropa. Di tengah kondisi tersebut, produsen otomotif asal China seperti Geely, Dongfeng, GAC, dan Chery berhasil mendominasi pasar, bahkan merek lokal Evolute turut terbantu berkat penggunaan kit perakitan dari Dongfeng.

Data dari lembaga riset Autostat mencatat pertumbuhan penjualan kendaraan plug-in hybrid mencapai 125% atau setara 24.600 unit sepanjang Januari hingga Mei 2026. Meskipun demikian, para ahli memperingatkan bahwa infrastruktur pengisian daya yang belum memadai, jarak tempuh antar kota yang jauh, serta tantangan iklim ekstrem masih menjadi kendala besar yang membayangi keberlanjutan tren kendaraan listrik di Rusia.

Meski sebagian pemilik kendaraan listrik mulai menikmati efisiensi di tengah krisis, ketergantungan pada pengisian daya rumah dinilai belum menjadi solusi ideal bagi seluruh masyarakat. Hingga saat ini, ketersediaan unit di pasar pun masih menjadi tantangan bagi para importir yang belum sepenuhnya mengantisipasi lonjakan permintaan yang begitu mendadak.