Presiden Prabowo Subianto secara langsung meninjau berbagai hasil riset dan inovasi mutakhir yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kegiatan yang berlangsung di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (6/8/2026) ini dilakukan sebelum Kepala Negara bertatap muka dengan sekitar 150 periset BRIN untuk membahas strategi percepatan pembangunan nasional.

Didampingi Kepala BRIN Arif Satria, Presiden Prabowo mengamati secara saksama stan pameran yang menampilkan kemajuan di sektor energi, pertahanan, kedirgantaraan, pangan, kesehatan, hingga teknologi pengolahan air. Salah satu inovasi yang menarik perhatian Presiden adalah unit pengolahan air darurat yang mampu mengubah air banjir atau air payau menjadi air siap minum. Kepala Negara bahkan mencicipi langsung air hasil filtrasi tersebut yang sebelumnya telah digunakan dalam berbagai operasi tanggap bencana.

Dalam pemaparannya, Arif Satria menyoroti sejumlah program strategis, termasuk pengembangan penyimpanan gas alam bertekanan rendah berbasis Metal Organic Framework (MOF) yang dikembangkan bersama peraih Nobel Susumu Kitagawa. Teknologi ini diproyeksikan mampu memangkas beban subsidi LPG hingga Rp26 triliun per tahun. Di sektor kedirgantaraan, BRIN juga memamerkan lisensi pesawat N219 untuk PT Dirgantara Indonesia serta persiapan peluncuran satelit penginderaan jauh NEO-1 pada awal 2027 yang diklaim mampu menghemat biaya misi hingga 71,9 persen.

Pada lini pertahanan, BRIN memperkenalkan Pesawat Udara Nirawak (Puna) Alap-Alap yang memiliki kemampuan terbang selama enam jam untuk kebutuhan pengawasan wilayah dan pemetaan. Tak hanya itu, inovasi kapal nelayan bertenaga listrik juga dipamerkan dengan potensi memotong biaya operasional hingga 70 persen, bersanding dengan riset pangan pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pengembangan kendaraan listrik.

Pameran ini juga menampilkan terobosan di bidang medis dan industri lokal, seperti smart insole untuk rehabilitasi dan sepatu sekolah murah berbahan karet lokal. Arif menegaskan bahwa penguasaan teknologi, termasuk kesiapan teknologi nuklir sejak dini, sangat krusial agar Indonesia tidak sekadar menjadi pembeli teknologi asing. Dukungan penuh dari Presiden Prabowo diharapkan dapat menyelaraskan hasil riset dengan kebutuhan industri dan masyarakat demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.