JAKARTA — Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) menggelar diskusi publik bertajuk "Ruang Temu AI dan Agama" guna menyoroti relasi serta tantangan perkembangan kecerdasan buatan terhadap kehidupan beragama. Agenda yang merupakan bagian dari peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB ini diselenggarakan untuk merumuskan batasan etis penggunaan teknologi dalam ranah spiritual.
Sekretaris Jenderal DPP PKB, Hasanuddin Wahid yang akrab disapa Cak Udin, menjelaskan bahwa integrasi kecerdasan buatan (AI) membawa tantangan tersendiri bagi penganut agama. Ia menekankan perlunya pemahaman yang komprehensif mengingat agama merupakan ajaran sakral dari Tuhan, sementara AI murni merupakan hasil rekayasa teknologi buatan manusia.
Cak Udin juga menyoroti bagaimana teknologi mutakhir ini mulai merambah dunia pesantren. Saat ini, tidak sedikit santri yang memanfaatkan AI untuk mencari rujukan kitab digital guna memperkuat argumentasi dalam forum diskusi keagamaan. Fenomena ini memicu pertanyaan krusial mengenai masa depan otoritas pengetahuan agama; apakah tetap berada di tangan ulama dan kiai, atau bergeser ke sistem digital instan.
Kendati teknologi AI menawarkan kemudahan akses informasi, PKB menegaskan bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan dimensi spiritual, etika, dan kehangatan sosial yang dimiliki oleh para ulama. Diskusi ini juga menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, termasuk perwakilan DPR RI, Kementerian Komunikasi dan Digital, tokoh agama Gus Muwafiq, serta praktisi teknologi dari KORIKA.