Raksasa teknologi International Business Machines (IBM) menunjukkan ketahanan bisnis yang solid di tengah pergeseran pasar ke arah kecerdasan buatan (AI). Meskipun divisi infrastruktur mainframe mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 7 persen, loyalitas basis pelanggan lama serta arus kas bebas yang kuat tetap menjaga stabilitas finansial perusahaan. Koreksi harga saham IBM baru-baru ini dinilai oleh para analis sebagai momentum menarik bagi investor untuk melakukan akumulasi beli.

Kinerja finansial IBM terbantu secara signifikan oleh pertumbuhan di sektor perangkat lunak, terutama anak usahanya, Red Hat, yang membukukan kenaikan performa sebesar 11 persen. Penurunan harga saham ke kisaran USD 210 telah menormalisasi valuasi perusahaan menjadi 17,6 kali rasio harga terhadap pendapatan (P/E). Para analis pasar menilai level ini mencerminkan koreksi sehat terhadap risiko jangka pendek, sekaligus mempertahankan rekomendasi beli karena fundamental yang kokoh.

Penurunan pendapatan pada sektor IT tradisional terjadi karena banyak korporasi mulai mengalihkan anggaran mereka untuk membangun infrastruktur AI mandiri secara lokal dengan model data yang lebih privat. Merespons tren tersebut, IBM meluncurkan inovasi terbaru seperti Power Autonomous Operations, sebuah agen AI yang mampu mendeteksi dan menyelesaikan kendala sistem hingga 15 kali lebih cepat dibanding metode manual, demi meningkatkan efisiensi operasional.

Di sisi lain, IBM memperluas ekosistem digitalnya melalui kemitraan strategis dengan Sperax, pengembang stablecoin USDs dan platform agen kecerdasan buatan SperaxOS. Kolaborasi ini mengintegrasikan teknologi keuangan terdesentralisasi (DeFi) berbasis AI milik Sperax dengan infrastruktur cloud dan AI milik IBM. Langkah taktis ini diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi agen AI yang aman dan patuh regulasi di berbagai sektor industri global.