Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memaparkan laporan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester pertama tahun 2026 dalam rapat koordinasi bersama DPR, Selasa (7/7). Hingga akhir Juni 2026, defisit APBN tercatat berada di angka Rp196,5 triliun atau setara dengan 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan perbaikan efisiensi fiskal dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai 0,84% terhadap PDB.
Kinerja fiskal periode ini didukung oleh surplus keseimbangan primer sebesar Rp85,1 triliun. Peningkatan penerimaan negara menjadi kontributor utama, didorong oleh pertumbuhan pajak neto sebesar 24,6% secara tahunan (YoY). Implementasi sistem Coretax dan membaiknya aktivitas ekonomi terbukti memberikan dampak signifikan pada penerimaan PPh Badan serta PPN/PPnBM. Di sisi lain, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga mencatatkan pertumbuhan 21,6% akibat fluktuasi harga komoditas mineral dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Di sektor belanja negara, pemerintah mencatat akselerasi realisasi sebesar 43,1% dari pagu APBN 2026 hingga Juni. Peningkatan belanja dipicu oleh pelaksanaan program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), penyaluran bantuan sosial, serta pembayaran kewajiban subsidi energi. Purbaya menegaskan bahwa percepatan ini merupakan langkah taktis untuk memastikan distribusi belanja yang merata sepanjang tahun fiskal berjalan.
Meski mencatat progres positif, pemerintah melakukan penyesuaian pada outlook defisit akhir tahun menjadi 2,85% terhadap PDB atau senilai Rp734,3 triliun. Revisi ini dipicu oleh keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi guna menjaga daya beli masyarakat. Meski begitu, pemerintah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 menjadi 5,6%–6%, lebih tinggi dari target awal sebesar 5,4%.
Para pelaku pasar kini menanti sinyal stabilitas ekonomi lebih lanjut, termasuk data inflasi Amerika Serikat dan peninjauan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia oleh S&P. Kinerja ETF MSCI Indonesia (EIDO) yang sempat menguat 3,14% dalam satu hari menjadi indikator awal pulihnya minat investor asing terhadap aset domestik setelah tantangan pasar yang terjadi sepanjang tahun 2026.