Unggahan memilukan dokter Melinda Bella di media sosial memicu gelombang simpati dan respons cepat dari berbagai pihak. Bertugas sendirian di Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Dampek, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), ia mengaku kewalahan menangani ratusan korban gempa bumi di tengah keterbatasan fasilitas dan obat-obatan.

Dokter Melinda mengungkapkan bahwa wilayah kerjanya mencakup sekitar 17 ribu penduduk. Situasi kian pelik lantaran akses jalan menuju lokasi terisolasi akibat longsor, ditambah padamnya jaringan listrik dan telekomunikasi. Ia sangat membutuhkan bantuan tenaga kesehatan tambahan karena keterbatasan fisik setelah bersiaga tanpa henti sejak gempa pertama mengguncang.

Menanggapi situasi darurat tersebut, Tim Kesehatan Muhammadiyah segera mengambil tindakan nyata. Melalui koordinasi dr. Ibrahim Sengaji dari Klinik Utama Muhammadiyah Ende, satu tim yang terdiri dari seorang dokter dan dua perawat diterjunkan guna memperkuat pelayanan medis di PKM Dampek.

Perjalanan menuju lokasi bencana tidaklah mudah. Dipimpin oleh dr. Baim, tim relawan gabungan dari Klinik Muhammadiyah Ende, MDMC Ende, dan Klinik Muhammadiyah Maumere harus menembus medan berat serta menyisir daerah perbukitan demi menghindari potensi tsunami di Mbay. Mereka juga sempat mendirikan posko kesehatan darurat di Riung, Kabupaten Ngada.

Selain membawa obat-obatan dan logistik penting, tim medis ini aktif memberikan tindakan darurat di sepanjang jalur evakuasi, mulai dari pembersihan luka hingga penjahitan luka robek bagi warga terdampak. Hingga saat ini, Tim Kesehatan Muhammadiyah berkomitmen untuk tetap bersiaga di Puskesmas Dampek guna membantu penanganan serta proses evakuasi pasien yang memerlukan rujukan darurat.